Harga minyak mentah global mengalami lonjakan signifikan, hampir mencapai US$ 110 per barel pada perdagangan hari Minggu. Kenaikan ini dipicu oleh penutupan jalur pengiriman di Selat Hormuz yang disebabkan oleh konflik antara Iran dan Israel, yang melibatkan Amerika Serikat.
Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 20,75% menjadi US$ 109,75 per barel. Kenaikan mingguan minyak mentah AS ini mencapai 35%, tertinggi sejak 1983.
Harga minyak Brent juga mengalami kenaikan sebesar 18,2% menjadi US$ 109,48 per barel. Terakhir kali harga minyak menembus US$ 100 adalah pada awal invasi Rusia ke Ukraina tahun 2022.
Presiden AS Donald Trump segera memberikan tanggapan melalui akun Truth Social miliknya setelah harga melewati angka US$ 100. Menurutnya, kenaikan harga minyak merupakan harga yang harus dibayar untuk menghancurkan ancaman nuklir Iran.
"Hanya orang bodoh yang berpikir sebaliknya!" tulis Trump, dikutip dari CNBC International, Senin (9/3/2026).
Beberapa negara anggota Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) juga menghadapi kondisi darurat. Produksi di tiga ladang minyak utama di Irak selatan merosot hingga 70%, dari 4,3 juta barel menjadi hanya 1,3 juta barel per hari.
Uni Emirat Arab (UEA) juga mulai mengurangi produksi karena keterbatasan ruang penyimpanan. Kuwait, produsen terbesar kelima OPEC, mengambil langkah antisipasi terhadap ancaman Iran di jalur laut dengan memangkas produksi secara drastis.
Selat Hormuz menjadi jalur yang paling dihindari, padahal jalur ini melayani 20% konsumsi minyak dunia. Pengusaha tanker khawatir menjadi target serangan Iran.
Akibatnya, terjadi penumpukan stok minyak karena tidak ada kapal yang berani melintas. Negara-negara Arab di kawasan Teluk terpaksa mengurangi produksi karena kehabisan ruang penyimpanan.
Menteri Energi AS, Chris Wright, menyatakan bahwa situasi ini akan kembali normal setelah AS melumpuhkan kemampuan Iran untuk mengancam kapal tanker.
"Tidak akan lama lagi Anda akan melihat dimulainya kembali lalu lintas kapal secara reguler melalui Selat Hormuz. Saat ini kondisi memang belum normal dan butuh waktu. Namun, dalam skenario terburuk, ini hanya masalah beberapa minggu, bukan berbulan-bulan," ujar Wright dalam wawancara dengan CNN.