Harga Minyak Dunia Mencekik, Ojol Listrik Lebih Tenang

Kenaikan harga minyak dunia menekan biaya operasional ojol. Pengemudi motor listrik merasa lebih tenang dengan biaya lebih efisien.

Gejolak geopolitik di Timur Tengah antara Iran dan koalisi Amerika Serikat-Israel berdampak pada pasar energi global. Harga minyak mentah dunia melonjak hingga menembus US$ 110 per barel, jauh di atas asumsi APBN sebesar US$ 70 per barel.

Menurut data Indef, setiap kenaikan US$ 10 per barel di atas asumsi awal dapat menyebabkan pembengkakan biaya hingga Rp 80 triliun. Jika harga terus naik ke US$ 120, beban tambahan diperkirakan mencapai Rp 400 triliun.

Situasi ini menimbulkan kekhawatiran bagi sekitar 6 juta pengemudi ojek online (ojol) di Indonesia, sebab kenaikan harga BBM berpotensi menekan biaya operasional harian mereka.

Di tengah ancaman tersebut, pengemudi ojol yang telah beralih ke motor listrik justru merasa lebih nyaman. Acel Yusde Pario, seorang mitra ojol yang menggunakan motor listrik sejak pertengahan 2024, mengungkapkan alasannya.

Acel memperkirakan pengeluaran untuk membeli BBM mencapai Rp 60.000 per hari jika menggunakan motor bensin. Biaya tersebut belum termasuk perawatan kendaraan dan pajak tahunan.

Awalnya ragu, Acel kini yakin dengan keputusannya beralih ke motor listrik. "Sejauh ini saya belum akan beralih ke motor bensin lagi. Saya masih nyaman menggunakan motor listrik," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (13/3/2026).

Ia bahkan menambah satu unit motor listrik lagi untuk keperluan di rumah. Motor listrik Electrum yang digunakan Acel mampu menempuh jarak hingga 200 kilometer per hari dengan skema sewa milik (rent to own). Acel membayar Rp 55.000 per hari ditambah biaya baterai Rp 25.000 per hari karena motor tersebut bukan baru.

"Motor Electrum ini karena kilometer-nya sudah di atas 7.000, jadi saya harus bayar harga tersebut sampai 532 hari atau sekitar satu tahun tujuh bulan," jelasnya.

Acel menilai biaya tersebut masih lebih efisien dibandingkan cicilan motor bensin seperti Honda Vario yang mencapai sekitar Rp 2,3 juta per bulan, belum termasuk bahan bakar, servis, dan pajak.

Dari sisi perawatan, motor listrik juga lebih sederhana. Servis umumnya berupa pengecekan sistem kelistrikan dan ditanggung oleh penyedia layanan.

Selama menggunakan motor listrik, Acel belum menemukan kendala berarti. Ia bahkan menyebut motor listrik relatif lebih aman saat banjir.

Air berpotensi masuk ke knalpot dan menyebabkan mogok pada motor bensin. Sementara pada motor listrik, kendaraan tetap dapat beroperasi dengan aman selama air tidak masuk ke bagian jok tempat baterai berada.

Minat tinggi terhadap motor listrik di kalangan ojol menjadi peluang bagi PT Electrum, perusahaan patungan PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) dan GOTO. Hingga akhir 2025, Electrum telah mengoperasikan lebih dari 7.500 unit motor listrik dengan dukungan 364 stasiun tukar baterai.

Direktur Utama TOBA Juli Oktarina menjelaskan bahwa langkah strategis perseroan di bisnis kendaraan listrik semakin relevan di tengah tekanan pasar energi global akibat ketegangan geopolitik. TBS memandang diversifikasi bisnis sebagai kunci resiliensi dan mitigasi risiko dalam menghadapi volatilitas pasar.

"Strategi bisnis kami saat ini memberikan fleksibilitas bagi Perseroan untuk tetap tumbuh, di mana sektor pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan kendaraan listrik justru menjadi peluang krusial bagi ketahanan energi nasional. Melalui inovasi seperti skema rent-to-own pada ekosistem motor listrik Electrum, TBS tidak hanya memitigasi dampak fluktuasi harga minyak bagi para pekerja sektor informal, tetapi juga memperkokoh fondasi bisnis hijau untuk memastikan keberlanjutan ekonomi jangka panjang," kata Juli.

Recommended