Harga Minyak Goreng dan Minyakita Dipastikan Stabil hingga 2026

Mendag memastikan harga minyak goreng, termasuk Minyakita, stabil hingga 2026 meski harga CPO global naik. Harga CPO diprediksi US$ 1.050-1.125 per ton.

Menteri Perdagangan, Budi Santoso, meyakinkan masyarakat bahwa harga minyak goreng, termasuk Minyakita, tidak akan mengalami kenaikan. Pernyataan ini disampaikan meskipun harga crude palm oil (CPO) atau minyak sawit mentah di pasar global sedang melonjak. Proyeksi harga CPO diperkirakan berada di antara US$ 1.050 hingga US$ 1.125 per ton hingga kuartal I-2026.

Menurut Budi, hingga saat ini belum ada indikasi kenaikan harga minyak goreng di pasar domestik. Ia juga menyatakan belum menerima informasi terkait potensi kenaikan harga tersebut.

"Enggak, enggak, enggak. Saat ini belum ada info ke saya. Selama ini belum ada kenaikan," kata Budi saat ditemui di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Jumat (13/3/2026).

Budi menambahkan bahwa harga Minyakita cenderung stabil dan bahkan mengalami penurunan dalam beberapa waktu terakhir. Hal ini didasarkan pada pengecekan langsung di lapangan dan pemantauan melalui Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP).

"Kemarin kalau cek harga Minyakita saja juga sekarang malah turun, kan? Berapa sekarang? Sekarang Rp 15.800 per liter, cek di SP2KP turun terus grafiknya. Jadi belum ada pengaruhnya sampai sekarang," imbuh Budi.

Menanggapi kemungkinan harga minyak goreng menembus Rp 20.000 per liter seperti yang terjadi pada periode 2021-2022, Budi menegaskan bahwa kondisi tersebut diperkirakan tidak akan terulang.

"Rasanya sih enggak deh (mengulang 2021-2022)," terang Budi.

Sebelumnya, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memprediksi bahwa produksi sawit pada tahun 2026 masih akan mengalami pertumbuhan tipis, kurang dari 5%. Sementara itu, dari sisi ekspor, diperkirakan akan relatif sama dengan tahun 2025.

GAPKI juga memproyeksikan bahwa harga minyak sawit dalam jangka pendek hingga kuartal I-2026 akan tetap tinggi, berada di kisaran US$ 1.050-1.125 per ton.

Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, menyampaikan bahwa saat ini produk minyak sawit Indonesia telah diekspor ke 117 negara di seluruh dunia, dengan volume ekspor yang terus meningkat setiap tahunnya.

Eddy menyampaikan dalam konferensi pers GAPKI di Jakarta, Kamis (12/3), "Jadi ekspor kita ada kenaikan. Kemudian nilainya pun kita ada naik, dari 29 juta ton (2024) menjadi 35 juta ton (2025). Ada kenaikan nilai ekspor kita. Jadi artinya industri sawit luar biasa."

Recommended