Harga Minyak Diprediksi Naik Tajam Akibat Serangan AS-Israel ke Iran

Serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran diperkirakan memicu lonjakan harga minyak dunia. Selat Hormuz jadi perhatian utama.

Serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada Sabtu (28/2/2026) diprediksi akan menyebabkan gejolak harga minyak dunia. Dampak dari serangan ini diperkirakan lebih besar dibandingkan dampak serangan AS ke Venezuela dan penangkapan mantan Presiden Nicolas Maduro.

Florian Weidinger, CIO di Santa Lucia Asset Management, menyatakan bahwa kenaikan harga minyak yang lebih tajam dapat diperkirakan terjadi pada minggu berikutnya sebagai akibat dari situasi ini.

Kenaikan harga minyak dapat semakin menjadi-jadi jika Iran memutuskan untuk menutup Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang terletak di antara Oman dan Iran. Selat ini merupakan salah satu titik penting dalam lalu lintas minyak dunia.

Menurut data dari perusahaan intelijen pasar Kpler, sekitar 13 juta barel minyak mentah per hari melewati Selat Hormuz pada tahun 2025. Jumlah ini mencakup sekitar 31% dari total aliran minyak global yang diangkut melalui laut.

Kenneth Goh, Private Wealth Management Director di UOB Kay Hian di Singapura, menjelaskan perbedaan potensi dampak antara situasi Venezuela dan Iran. "Venezuela adalah kisah produksi. [Iran] adalah kisah tentang titik hambatan," ujarnya.

Goh mencontohkan peristiwa pada Juni 2025, ketika Israel menyerang situs nuklir Iran. Saat itu, saham-saham mengalami penurunan tajam pada pembukaan pasar, namun kemudian pulih setelah kejelasan bahwa Selat Hormuz tidak terganggu. Ia memperkirakan pasar akan merujuk pada pola ini.

Selain itu, Kenneth Goh juga memprediksi adanya perpindahan aset ke aset yang dianggap aman, seperti penguatan dolar AS, yen Jepang, dan peningkatan permintaan emas.

Sementara itu, Alicia García-Herrero, kepala ekonom untuk Asia-Pasifik di Natixis, memprediksi bahwa pembukaan pasar modal pada Senin (2/3) akan diwarnai dengan potensi penurunan ekuitas global sebesar 1% hingga 2% atau lebih. Imbal hasil obligasi pemerintah AS diperkirakan turun 5 hingga 10 basis poin, dan harga minyak melonjak 5% hingga 10%.

Alicia García-Herrero mengingatkan investor untuk berhati-hati dan menunggu respons dari Iran. "jangan bertaruh pada hal yang berisiko," kata Garcia.

Recommended