Konflik yang berkecamuk di Timur Tengah mulai memengaruhi operasional ekspor produsen otomotif China, menghambat penjualan langsung ke Iran dan jalur transhipment strategis melalui Dubai. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan potensi revisi target ekspor tahun 2026.
Seorang manajer ekspor dari perusahaan mobil pelat merah China mengungkapkan bahwa bisnis mereka di Iran terhenti total. Dubai, yang menjadi hub distribusi utama bagi perusahaan otomotif China, juga terkena dampak.
Dubai, menurut seorang pelaku perdagangan otomotif, menjadi hub transhipment penting bagi perusahaan mobil China untuk menjangkau pasar Timur Tengah, Afrika Barat, dan Afrika Utara. Ketidakamanan di titik transit ini mengganggu seluruh operasi.
Uni Emirat Arab (UEA) pada tahun 2025 menjadi tujuan ekspor otomotif terbesar ketiga bagi China setelah Meksiko dan Rusia. Data dari Sekretaris Jenderal China Passenger Car Association, Cui Dongshu, menunjukkan ekspor ke UEA mencapai 567.000 unit, meningkat lebih dari 70 persen secara tahunan. Angka ini melampaui penjualan domestik UEA yang kurang dari 400.000 unit.
Seorang pelaku industri menyebut Dubai berfungsi sebagai "gudang depan". Perusahaan mengirim kendaraan ke Dubai sebelum mendistribusikannya ke tujuan akhir. Pada 2025, perusahaannya mengirim hampir 30.000 kendaraan ke Dubai.
Strategi ini memanfaatkan keunggulan geografis, kemudahan finansial, dan insentif pajak yang ditawarkan Dubai.
Dampak Serangan ke Pelabuhan Jebel Ali
Transportasi laut menjadi metode utama dan paling ekonomis untuk ekspor kendaraan China ke Timur Tengah, dengan Pelabuhan Jebel Ali sebagai pusat pengiriman roll-on/roll-off (Ro-Ro) terbesar di kawasan.
Serangan ke Pelabuhan Jebel Ali pada 1 Maret sempat menghentikan operasional. Meskipun DP World mengumumkan empat dermaga kembali beroperasi normal pada hari yang sama, banyak perusahaan pelayaran masih menangguhkan layanan, menghambat pemulihan aktivitas pelabuhan.
Pengaruh pada Pasar Eropa dan Investasi Logistik
Gangguan juga meluas ke pasar Eropa, yang merupakan pasar regional terbesar ketiga bagi ekspor mobil China dengan lebih dari 1,3 juta unit pada 2025. Uni Eropa juga menjadi tujuan utama kendaraan energi baru (NEV).
Rute Laut Merah dan Terusan Suez yang berisiko tinggi memaksa pengiriman dialihkan melalui Tanjung Harapan, menambah waktu tempuh 10–15 hari dan berpotensi meningkatkan biaya logistik.
Menurut China Association of Automobile Manufacturers (CAAM), China mencatat rekor ekspor 7,09 juta kendaraan pada 2025, meningkat sekitar 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya. CAAM sebelumnya memproyeksikan pertumbuhan 4,3 persen menjadi 7,4 juta unit pada 2026, namun eskalasi konflik regional berpotensi memaksa revisi proyeksi tersebut.
Investasi besar perusahaan China di infrastruktur logistik kawasan juga terancam. Pengiriman suku cadang otomotif China tiba di Jebel Ali dan dipindahkan ke gudang luar negeri di Jebel Ali Free Zone pada Februari lalu. Gudang seluas 19.000 meter persegi tersebut dibangun oleh COSCO Shipping bersama Chery untuk memangkas waktu respons distribusi regional.
Meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan gangguan terhadap hub Dubai berpotensi mengubah peta distribusi ekspor otomotif China secara global, sekaligus menguji ketahanan rantai pasok industri kendaraan terbesar di dunia tersebut.