Harga RAM DDR5 Anjlok 30 Persen, Tren Kenaikan Setahun Terakhir Terhenti

Harga RAM DDR5 jatuh hingga 30 persen bulan lalu, memutus tren kenaikan ekstrem akibat permintaan AI selama setahun terakhir.

Harga komponen memori RAM untuk perangkat komputer mulai mengalami penurunan signifikan setelah hampir setahun terus melonjak akibat tren kecerdasan buatan (AI). Berdasarkan data rantai pasok di Asia pada Senin (13/4/2026), harga spot untuk DDR5 tercatat merosot hingga mendekati angka 30 persen.

Koreksi harga ini juga merembet pada komponen DDR4 yang mengalami penurunan sebesar lima persen, sekaligus menjadi kontraksi bulanan pertama sejak Februari 2025. Dilansir dari Detik iNET, kondisi ini memberikan angin segar bagi para perakit PC yang sebelumnya sempat menunda peningkatan kapasitas memori.

Data pasar menunjukkan harga spot sekeping DDR4 berkapasitas 16GB kini berada di level USD 74,10 atau setara Rp 1,1 juta. Angka ini memutus tren lonjakan harga yang sempat menyentuh 2.200 persen dalam setahun terakhir akibat masifnya pembangunan pusat data AI di berbagai belahan dunia.

Untuk jenis memori yang lebih baru, harga spot DDR5 berkapasitas 16GB saat ini turun ke angka USD 37,20 atau sekitar Rp 500 ribuan. Penurunan harga di tingkat distributor ini sudah mulai terlihat pada platform ritel daring besar di wilayah Amerika Serikat dan China.

Di platform Amazon, paket memori DDR5 berkapasitas 32GB kini dibanderol 30 persen lebih murah dibandingkan periode bulan sebelumnya. Meski demikian, harga jual perangkat keras ini secara umum masih terhitung 20 kali lipat lebih tinggi jika dibandingkan dengan harga dasar pada awal 2025.

Dikutip dari laporan DigiTimes, terdapat dua faktor utama yang menyebabkan harga spot memori jatuh secara mendadak di pasaran. Faktor pertama berkaitan dengan aksi jual massal atau cuci gudang yang dilakukan oleh para distributor yang sebelumnya menimbun stok di awal masa kenaikan harga.

Penyebab kedua adalah munculnya inovasi perangkat lunak TurboQuant yang dikembangkan oleh Google untuk kompresi memori. Kehadiran teknologi ini memicu kepanikan di kalangan distributor yang kemudian segera melepas persediaan stok lama mereka ke pasar sesegera mungkin.

Namun, penurunan di tingkat perdagangan spot ini diperkirakan tidak akan langsung dirasakan secara drastis oleh konsumen akhir dalam waktu singkat. Hal ini dikarenakan porsi perdagangan spot hanya mewakili bagian kecil dari total distribusi perangkat keras secara global.

Proyeksi Harga Kontrak dan Flash NAND

Berbeda dengan pasar spot, harga memori di tingkat kontrak yang menjadi jalur utama bagi pabrikan besar justru diprediksi akan terus menanjak. Estimasi kenaikan pada pasar kontrak tersebut berkisar antara 58 persen hingga 63 persen pada periode mendatang.

Lonjakan ini akan memperburuk situasi setelah pada kuartal sebelumnya telah terjadi kenaikan harga sebesar 95 persen. Selain RAM, komponen flash NAND yang menjadi bahan baku utama SSD juga diproyeksikan bakal mengalami lonjakan harga hingga 75 persen pada kuartal berjalan ini.

Menurut laporan dari Tom's Hardware, tren kenaikan harga komponen penyimpanan ini memberikan sinyal bahwa harga SSD di tangan konsumen masih akan terus merangkak naik. Kondisi pasar yang fluktuatif ini membuat biaya merakit komputer baru di tahun 2026 masih tetap membebani anggaran pengguna.

Recommended