Hilirisasi Nikel Dorong Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Jangka Panjang

DBS Research menilai hilirisasi nikel dan ekosistem kendaraan listrik menjadi penggerak utama ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global.

Sektor pengolahan nilai tambah berbasis nikel dan pengembangan ekosistem kendaraan listrik diproyeksikan menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Kamis, 14 Mei 2026. Fokus pada hilirisasi ini dinilai mampu menjaga stabilitas nasional di tengah tekanan pasar keuangan dunia yang fluktuatif.

Dilansir dari Medcom, DBS Research mengidentifikasi industri nikel, energi terbarukan, dan pembangunan infrastruktur sebagai fondasi ekonomi paling menjanjikan. Konsistensi pemerintah dalam menjalankan kebijakan hilirisasi menjadi magnet utama bagi para investor internasional untuk menanamkan modal di tanah air.

Head of Research Indonesia DBS Group Research, William Simadiputra, menjelaskan bahwa keberlanjutan arah kebijakan sangat krusial. Kepercayaan investor asing bergantung pada komitmen jangka panjang terhadap sektor-sektor strategis tersebut.

"Keberlanjutan kebijakan hilirisasi akan tetap menjadi daya tarik utama bagi investor internasional," kata William Simadiputra, Head of Research Indonesia DBS Group Research. Ia juga menekankan pentingnya energi hijau sebagai pilar pertumbuhan masa depan.

Meskipun kondisi global penuh tantangan, minat investasi domestik tercatat masih cukup terjaga. Pertumbuhan kredit investasi menunjukkan tren positif, terutama pada sektor pertambangan, konstruksi, dan agrikultur yang tetap bergerak aktif meski di bawah tekanan eksternal.

Risiko geopolitik di Timur Tengah saat ini menjadi sorotan utama karena berpotensi mengganggu jalur distribusi energi dunia. Kondisi tersebut dapat memicu lonjakan harga minyak global yang berdampak langsung pada tingkat inflasi di dalam negeri.

DBS memperkirakan harga minyak dunia akan berada pada rentang USD80 hingga USD85 per barel. Namun, skenario terburuk akibat hambatan distribusi dapat mendorong kenaikan harga hingga mencapai angka USD100 sampai USD150 per barel.

Stabilitas ekonomi nasional juga dibayangi oleh pelemahan nilai tukar rupiah dan risiko cuaca ekstrem akibat fenomena El Nino yang memengaruhi harga pangan. Kenaikan harga produsen (PPI) turut menjadi faktor yang diwaspadai dalam menjaga ketahanan daya beli masyarakat.

Bank Indonesia diperkirakan akan mengambil langkah lebih ketat atau hawkish untuk mengamankan likuiditas pasar dan nilai tukar. Fokus kebijakan moneter saat ini tetap diarahkan pada perlindungan stabilitas domestik dari guncangan ekonomi luar negeri yang tidak terduga.

Recommended