Huawei Cloud secara resmi meluncurkan layanan Model-as-a-Service (MaaS) untuk pasar Indonesia pada hari Jumat, 17 April 2026 dalam acara Huawei Cloud AI Boost Day di Jakarta. Peluncuran ini bertujuan memfasilitasi perusahaan lokal dalam mengadopsi teknologi kecerdasan buatan (AI) dari tahap uji coba ke implementasi bisnis yang konkret.
Dilansir dari Medcom, layanan MaaS ini mengintegrasikan enam model sumber terbuka kelas dunia dari keluarga GLM, DeepSeek, dan Qwen. Infrastruktur ini dirancang sebagai respons terhadap tren global yang memosisikan AI sebagai pekerja digital aktif dalam alur kerja organisasi.
Pemanfaatan mesin akselerasi proprietary buatan mandiri memungkinkan pelaku usaha melakukan migrasi dari sistem cloud konvensional menuju ekosistem yang digerakkan oleh AI. Platform ini juga menyediakan fitur hosting model siap pakai untuk memudahkan para pengembang lokal.
"Kehadiran MaaS bertujuan menyediakan fondasi berperforma tinggi agar pelaku bisnis dapat menghasilkan dampak nyata secara lebih cepat dan aman melalui infrastruktur cloud native," kata Leon Fang, CEO Huawei Cloud Indonesia.
Model-model yang tersedia telah dioptimalkan untuk dua pilar utama, yakni Intelligent Q\&A serta AI Coding. Salah satu keunggulan teknis yang ditawarkan adalah dukungan model GLM-5 yang memiliki performa State-of-the-Art (SOTA) untuk tugas pemrograman dan kapabilitas agen AI yang kompleks.
Ekosistem AI di Indonesia kini diperkuat dengan integrasi CloudMatrix AI Infra, ModelArts, dan DataArts yang didukung jaringan infrastruktur luas. Huawei mengelola 5 Region dan 18 Availability Zones di Asia Pasifik guna menjamin kecepatan akses dengan latensi rendah hingga 50 ms.
Raksasa teknologi ini juga berencana memperluas jangkauan layanan dengan menghadirkan CodeArts dan AgentArts di wilayah Asia Pasifik pada paruh kedua tahun 2026. Langkah ini menjadi bagian dari strategi riset dan pengembangan perusahaan yang mengalokasikan 20 persen dari total pendapatan.
Saat ini, Huawei telah mempekerjakan lebih dari 2.700 karyawan di Indonesia dengan komposisi 90 persen tenaga kerja lokal. Upaya penguatan infrastruktur digital ini ditujukan untuk menyokong visi nasional Indonesia Emas 2045 melalui transformasi teknologi yang berkelanjutan.