Ibn al-Haytham, seorang tokoh Muslim, diakui sebagai ilmuwan pertama di dunia yang memberikan kontribusi signifikan terhadap perkembangan pemikiran saintifik.
Selain keahliannya di bidang optik, ia dikenal sebagai Bapak Optik Modern dan pelopor dalam penulisan tentang metode ilmiah.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, melalui akun Instagram @prof.stellachristie pada Sabtu, 21 Maret 2026, menyatakan bahwa "Ibn al-Haytham adalah *the first scientist ever in the world*. Dia adalah seorang tokoh muslim yang sangat berpengaruh terhadap pemikiran scientific."
Menurut Stella, penelitian Ibn al-Haytham berfokus pada optik dan penglihatan. Karyanya yang berjudul Kitab al-Manazir menjelaskan bagaimana manusia melihat, dan ia juga dikenal sebagai penemu kamera pertama.
"Selain pengetahuan tentang optik itu, dialah yang pertama kalinya di dalam sejarah dunia menuliskan apa sebenarnya pemikiran scientific," tutur Stella.
Ibn al-Haytham mengembangkan teori yang diuji melalui observasi untuk memvalidasi hipotesisnya. Ia juga menekankan pentingnya berpikir kritis dalam mengevaluasi hasil yang mungkin tidak selalu sesuai dengan hipotesis dan teori yang ada.
Al-Hassan Ibn al-Haytham (Alhazen) lahir di Basra pada tahun 965 dan wafat di Kairo pada tahun 1040.
Sebagai seorang pemikir ilmiah perintis, Ibn al-Haytham memberikan kontribusi penting dalam memahami penglihatan, optik, dan cahaya. Metodologi penyelidikannya, khususnya penggunaan eksperimen untuk memverifikasi teori, memiliki kesamaan dengan metode ilmiah modern.
Gagasannya memengaruhi cendekiawan Eropa, termasuk tokoh-tokoh pada masa Renaisans Eropa, melalui bukunya Kitab al-Manazir (Kitab Optik) dan terjemahan Latinnya (De Aspectibus). Ia dianggap sebagai tokoh sentral dalam sejarah optik dan Bapak Optik Modern.
Ibn al-Haytham hidup pada masa keemasan peradaban Islam, yang ditandai dengan kemajuan di bidang sains, teknologi, dan kedokteran. Pada masa itu, tokoh-tokoh dari berbagai agama dan budaya mengembangkan pengetahuan dan melakukan penemuan-penemuan penting yang sering kali kurang dihargai.
Kisah Ibn al-Haytham dapat menjadi inspirasi dan menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan dan agama Islam dapat berjalan beriringan.