Badan Energi Internasional (IEA) mengambil langkah besar dengan menyetujui pelepasan 400 juta barel minyak dari cadangan strategis. Langkah ini bertujuan untuk menstabilkan pasokan yang terganggu akibat konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Iran. Tindakan ini menjadi yang terbesar sepanjang sejarah IEA.
Sebagai informasi, IEA didirikan pada tahun 1974. Anggotanya mayoritas negara maju di Eropa, Amerika Utara, dan Asia Timur Laut. Peran utamanya adalah menjaga keamanan energi di tingkat global.
Menurut Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, konflik di Timur Tengah telah memberikan dampak signifikan pada pasar minyak dan gas dunia. Dampak tersebut berimplikasi besar pada keamanan energi, keterjangkauan energi, serta ekonomi global. Birol menyampaikan bahwa negara-negara anggota IEA telah sepakat untuk melepas stok minyak darurat terbesar dalam sejarah lembaga tersebut.
Saat ini, anggota IEA memegang lebih dari 1,2 miliar barel stok minyak darurat publik. Selain itu, terdapat tambahan 600 juta barel stok industri yang dipegang di bawah kewajiban pemerintah.
IEA tidak memberikan detail mengenai jangka waktu pelepasan cadangan minyak ke pasar. Namun, IEA menyatakan bahwa pelepasan akan disesuaikan dengan kondisi masing-masing dari 32 negara anggota.
Birol menambahkan, "Pelepasan ini dirancang untuk mengatasi dampak langsung dari gangguan pasokan. Lalu lintas kapal tanker harus dilanjutkan melalui Selat Hormuz agar aliran minyak dan gas kembali stabil ke pasar global."
Sebelumnya, Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, menyatakan bahwa Jepang akan melepaskan cadangan minyak secepatnya minggu depan. Alasan utamanya adalah tingkat ketergantungan Jepang yang sangat tinggi pada wilayah Timur Tengah.