IHSG Ambles ke Level 6.000-an Dipicu Pelemahan Beruntun

IHSG ambles ke level 6.000-an pada perdagangan pagi. Data mencatat pelemahan mencapai 0,78 persen dengan nilai transaksi Rp 1,67 triliun.

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka bergerak melemah hingga tertahan di zona merah pada teritori level 6.000-an. Penurunan ini bahkan sempat membawa indeks acuan pasar modal domestik tersebut menyentuh kisaran level 5.000-an.

Berdasarkan data RTI pada Jumat (22/5/2026) pukul 09.05 WIB, dilansir dari Detik Finance, IHSG terpuruk di posisi 6.047. Angka tersebut menunjukkan pelemahan sebesar 47 poin atau terkoreksi 0,78% setelah dibuka di level 6.065.

Pergerakan IHSG kemudian menukik turun dengan rentang perdagangan di batas bawah 5.966 hingga batas atas 6.074. Pembukuan nilai transaksi pada pasar saham pagi ini menyentuh Rp 1,67 triliun.

Aktivitas perdagangan tersebut melibatkan 3,60 miliar lembar saham yang ditransaksikan sebanyak 178.693 kali. Berdasarkan rincian volume transaksi, terdapat 129 saham yang mencatatkan penguatan nilai.

Sementara itu, sebanyak 418 saham bergerak melemah dan 155 saham lainnya tertahan stagnan. Penurunan indeks ini memperpanjang tren negatif performa pasar modal dalam beberapa periode terakhir.

IHSG tercatat melemah sebesar 20,01% dalam perhitungan bulanan. Tren penurunan berlanjut hingga 25,38% secara tiga bulanan, serta menembus koreksi 30,07% sepanjang tahun berjalan di 2026.

Kondisi pergerakan indeks di level 5.000-an ini mengingatkan pada situasi pasar modal saat fase awal pandemi COVID-19 di Indonesia. Pada masa itu, volatilitas tinggi sempat membuat pasar modal domestik mengalami tekanan hebat.

Saat kasus positif pertama diumumkan pada 2 Maret 2020, IHSG langsung merosot dan ditutup melemah 91 poin atau jatuh 1,67% menuju level 5.361. Upaya regulator melalui berbagai kebijakan terus dilakukan demi menahan kejatuhan indeks.

Tekanan pasar kian membesar seiring bertambahnya jumlah kasus harian di dalam negeri. Pada perdagangan 9 Maret 2020, akumulasi penurunan IHSG tercatat anjlok hingga 6,5% dan berakhir di level 5.136.

Kemerosotan tajam tersebut menjadi momentum langka yang memicu respons cepat dari otoritas pengawas. Bursa Efek Indonesia (BEI) kemudian mengambil langkah tegas dengan menerapkan kebijakan penghentian perdagangan sementara atau trading halt pada 10 Maret 2020.

Recommended