Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat pada sesi pertama perdagangan Jumat (6/2/2026). Hingga pukul 10.17 WIB, indeks komposit terpantau anjlok hingga 2 persen dan terlempar ke level 7.941. Pelemahan ini diiringi dengan gelombang koreksi massal yang melanda ratusan emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Di tengah kepanikan pasar yang membuat indeks memerah, sejumlah investor justru memanfaatkan momentum ini untuk melakukan akumulasi atau “serok bawah”. Pergerakan dana masuk terpantau cukup deras pada beberapa emiten blue chip, termasuk saham BBCA yang mencatatkan beli bersih (net buy) meskipun harganya sedang terkoreksi tipis. Berdasarkan data pasar, nilai transaksi di bursa secara keseluruhan telah menembus angka Rp 7,24 triliun dalam waktu singkat.
Tekanan Jual Massal di Bursa Efek Indonesia
Kondisi pasar hari ini memang cukup kontras jika dibandingkan dengan pembukaan perdagangan. Sebanyak 614 saham tercatat mengalami penurunan harga, sementara hanya 106 saham yang mampu bertahan di zona hijau. Sisa 94 saham lainnya bergerak stagnan tanpa perubahan harga yang signifikan.
Sentimen negatif yang membayangi pasar membuat mayoritas sektor di bursa bergerak melemah. Namun, tingginya nilai transaksi menunjukkan adanya pergantian tangan saham yang sangat aktif antara investor yang melakukan aksi jual (panic selling) dengan investor institusi yang mulai mengoleksi saham-saham dengan fundamental kuat di harga diskon.
Daftar Saham yang Paling Banyak Diborong Saat IHSG Anjlok
Meskipun layar monitor bursa didominasi warna merah, data Stockbit Sekuritas per pukul 10.20 WIB menunjukkan adanya arus modal masuk yang menarik untuk disimak. Investor terlihat mulai menyasar saham-saham dari berbagai sektor, mulai dari infrastruktur telekomunikasi hingga perbankan.
Berikut adalah daftar saham yang mencatatkan net buy terbesar di tengah koreksi IHSG:
-
SUPA: Mencatat beli bersih paling tinggi mencapai Rp 106,3 miliar.
-
TLKM (Telkom Indonesia): Membukukan net buy sebesar Rp 48,2 miliar.
-
BRMS (Bumi Resources Minerals): Dikoleksi investor dengan nilai Rp 28,4 miliar.
-
ANTM (Aneka Tambang): Mencatatkan dana masuk sebesar Rp 22,6 miliar.
-
BBCA (Bank Central Asia): Tetap menjadi favorit dengan net buy Rp 9,2 miliar.
Selain nama-nama besar di atas, saham HRTA juga menarik perhatian dengan akumulasi sebesar Rp 12,8 miliar, disusul oleh PANI yang mencatatkan beli bersih senilai Rp 10 miliar.
Analisis Pergerakan Harga Saham Unggulan
Menariknya, aksi beli bersih ini tidak selalu berbanding lurus dengan kenaikan harga secara instan. Beberapa saham yang diborong justru masih berada di zona negatif saat berita ini disusun. Hal ini lumrah terjadi dalam strategi investasi jangka panjang, di mana investor besar biasanya masuk secara bertahap saat harga sedang jatuh.
Sebagai contoh, saham SUPA terpantau masih melemah 3,76 persen meski mencatat net buy terbesar. Begitu juga dengan BRMS yang terkoreksi 3,06 persen dan ANTM yang turun 1,57 persen. Saham perbankan legendaris, BBCA, juga mengalami sedikit pelemahan sebesar 1,28 persen.
Namun, ada juga saham yang justru melawan arus (rebound) dengan sangat kuat. Saham TLKM berhasil terbang 2,13 persen ke zona hijau, dan HRTA mencatatkan lonjakan signifikan sebesar 5,18 persen di tengah kejatuhan indeks.
Strategi “Serok Bawah” di Tengah Volatilitas Tinggi
Fenomena akumulasi saham saat pasar sedang tertekan sering kali dianggap sebagai peluang oleh para pelaku pasar modal berpengalaman. Melemahnya IHSG hingga ke bawah level 8.000 memberikan kesempatan bagi pemilik modal untuk mendapatkan saham-saham unggulan dengan harga yang lebih terjangkau.
“Saat pasar tertekan, terdapat sejumlah saham yang diserok dengan adanya net buy transaksi,” demikian dikutip dari laporan data perdagangan sesi I hari ini.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kepercayaan pasar terhadap prospek ekonomi jangka panjang sebenarnya masih cukup stabil. Pelemahan yang terjadi saat ini lebih dilihat sebagai koreksi teknis atau reaksi sesaat terhadap sentimen pasar global maupun domestik yang sedang bergejolak.
Para analis menyarankan investor untuk tetap tenang dan tidak terjebak dalam aksi jual yang emosional. Fokus pada saham-saham yang memiliki kinerja keuangan solid dan rekam jejak dividen yang baik bisa menjadi pilihan aman untuk menghadapi fluktuasi IHSG yang cukup tajam di awal bulan Februari ini.
Hingga penutupan sesi I nanti, pergerakan dana asing dan nilai transaksi harian akan terus dipantau untuk melihat apakah IHSG mampu melakukan rebound atau justru semakin terperosok ke zona merah yang lebih dalam.
Sumber : Investor