Sempat diprediksi akan mencapai Rp 3,5 juta saat Lebaran, harga emas justru mengalami penurunan akibat eskalasi konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Menurut pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, harga emas cenderung turun karena konflik di Timur Tengah. Investor mengalihkan investasi ke dolar AS karena situasi yang belum jelas di Iran.
"Sehingga membuat para investor kembali meninggalkan logam mulia. Mereka untuk saat ini beralih ke dolar sebagai safe haven. Karena Iran sedang kekosongan pemimpin. Walaupun sudah ada pemimpin pun, tetapi pemimpin tersebut tidak mau berkomentar karena ada ketakutan daerahnya itu akan kelihatan dan akan diserang kembali," terangnya saat dihubungi detikcom, Minggu (22/3/2026).
Selain itu, lonjakan harga minyak mentah hingga US$ 112 per barel juga turut memengaruhi penurunan harga emas. Harga minyak yang tinggi berpotensi menaikkan harga komoditas dan inflasi, yang kemudian dapat memicu pengetatan suku bunga.
Kenaikan suku bunga saat inflasi tinggi dapat menekan harga emas. Investor cenderung mencari imbal hasil yang lebih tinggi dari aset berbunga seperti obligasi dan deposito.
Ibrahim menambahkan, bank sentral global cenderung mempertahankan suku bunga, bahkan berpotensi menaikkannya bulan depan. Kenaikan suku bunga akibat inflasi tinggi berdampak negatif terhadap harga logam mulia.
Meskipun demikian, Ibrahim menyarankan investor untuk memanfaatkan momen ini untuk membeli logam mulia. Ia memprediksi harga emas akan kembali menguat menjelang akhir Maret 2026.
"Mungkin mendekati akhir Maret ini logam mulia akan terus mengalami kenaikan. Jadi, kalau orang bilang kenapa logam mulia sepertinya ditinggalkan? Oh, tidak ditinggalkan. Ini ada peralihan dari logam mulia ke dolar AS. Nanti ada waktunya akan berpindah kembali ke logam mulia," beber dia.
Ibrahim menjelaskan bahwa emas tetap menjadi instrumen investasi yang baik untuk menjaga nilai uang. Ia bahkan memprediksi harga emas berpotensi menembus Rp 3,5 juta hingga akhir tahun.
"Sebenarnya pada saat terjadi koreksi terhadap logam mulia, ini kesempatan bagi masyarakat untuk melakukan pembelian. Karena kemungkinan besar (harganya naik) menjadi Rp 3,5 juta sampai akhir tahun, dan ini momentum yang paling bagus bagi masyarakat," ungkapnya.