IHSG Anjlok 1,26% ke 6.938,77 di Pembukaan 6 April 2026

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah 1,26% ke level 6.938,77 pada Senin, 6 April 2026. Pelemahan ini dipicu sentimen domestik dan global.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai perdagangan awal pekan ini dengan tekanan signifikan. Pada Senin, 6 April 2026, IHSG dibuka di zona merah dan terus mengalami penurunan tajam, mencapai level 6.900-an. Pelemahan ini mencerminkan sentimen negatif yang melanda pasar.

Dikutip dari RTI, pada pukul 09.08 WIB, IHSG tercatat berada di level 6.938,77. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 1,26% atau setara dengan 88,74 poin. Pada sesi pembukaan, IHSG sempat berada di level 7.001,56, dengan posisi tertinggi 7.008,52 dan terendah 6.935,35.

Aktivitas perdagangan pagi ini juga mencatat volume transaksi yang substansial, mencapai 2,61 miliar saham. Nilai transaksi (turnover) sebesar Rp 2,57 triliun, dengan frekuensi transaksi sebanyak 178.589 kali. Dari total saham yang diperdagangkan, 162 saham berhasil menguat, namun 383 saham melemah, dan 168 saham lainnya stagnan.

Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih, dalam risetnya, memperkirakan bahwa pergerakan IHSG pada 6 April 2026 akan bervariasi, berkisar antara 7.000 hingga 7.100. Beberapa sentimen utama yang memengaruhi pergerakan indeks ini berasal dari faktor domestik dan mancanegara.

Dari dalam negeri, IHSG mengalami koreksi sebesar -0,99% dalam sepekan terakhir, tepatnya hingga 2 April 2026. Penurunan ini merupakan kelanjutan dari tren negatif mingguan yang telah berlangsung selama enam pekan berturut-turut, sebagaimana dilansir dari Detik Finance.

Ratih Mustikoningsih juga mengungkapkan, "Investor asing mengalami outflow sebesar Rp 2,94 triliun di seluruh pasar dalam sepekan hingga 2 April 2026. Rupiah JISDOR tembus Rp 17.0015/USD pada 2 April, sekaligus jadi level terendah sepanjang masa." Ia menambahkan bahwa tensi geopolitik di Timur Tengah turut menyebabkan capital outflow dan potensi melebarnya defisit APBN.

Di sisi lain, regulator pasar modal Indonesia, melalui Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), telah menuntaskan empat agenda transparansi. Agenda ini merupakan bagian dari proposal kepada Global Index Providers, termasuk MSCI. Poin-poin penting dari agenda tersebut meliputi data kepemilikan saham di atas 1%, implementasi High Shareholding Concentration (HSC), klasifikasi 39 kepemilikan saham (tipe investor), serta kenaikan batas minimum free float menjadi 15% yang berlaku sejak 31 Maret 2026.

Dampak Pasar Global

Pergerakan indeks saham di Asia lainnya menunjukkan hasil beragam. Nikkei tercatat menguat 1,24%, sementara Hang Seng turun 0,70%, dan Shanghai Composite Index melemah 1%.

Dari pasar global, indeks S&P 500 menguat 0,11% dan Nasdaq melemah 0,18% pada penutupan akhir pekan 2 April 2026. Situasi geopolitik global juga menjadi perhatian, terutama terkait peringatan batas waktu negosiasi Iran-AS untuk pembukaan Selat Hormuz pada Selasa malam, 7 April.

Harga minyak mentah Brent terus menunjukkan kenaikan, mencapai reli 1,92% menjadi US$ 111 per barel pada pagi hari 6 Februari 2026. Sementara itu, data tenaga kerja Amerika Serikat (Non Farm Payroll) edisi Maret 2026 menunjukkan peningkatan 178 ribu dari penurunan bulan sebelumnya yang mencapai 133 ribu.

Ratih Mustikoningsih melanjutkan, "Pasar tenaga kerja yang solid membawa kekhawatiran inflasi masih di atas target The Fed 2%. Di sisi lain, Bursa Asia Pasifik dibuka menguat terbatas, indeks KOSPI +1,08% dan Nikkei 225 +0,51% pada 6 April 2026." Meskipun demikian, Indeks KOSPI mengalami penurunan -19% sepanjang Maret 2026, seiring dengan meningkatnya eskalasi di Timur Tengah dan kenaikan harga energi.

Recommended