Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai perdagangan awal pekan ini dengan penurunan signifikan. Sentimen pasar tertekan oleh situasi di Timur Tengah yang kembali memanas setelah adanya aksi saling serang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Data RTI pada Senin (2/3/2026) menunjukkan bahwa pada pukul 09.05 WIB, IHSG terkoreksi 1,58% atau sekitar 129 poin, berada pada level 8.105,76. Bahkan, sebelumnya IHSG sempat menyentuh level terendahnya di 8.049,38 atau melemah 1,8%.
IHSG mencatatkan level tertinggi di 8.113,47 dan level terendah di 8.092. Terpantau 625 saham mengalami penurunan, 65 saham menguat, dan 40 saham stagnan.
Volume perdagangan mencapai 5,43 miliar saham, dengan nilai transaksi sebesar Rp 3,53 triliun dan frekuensi perdagangan sebanyak 421.239 kali.
Ratih Mustikoningsih, Financial Expert Ajaib Sekuritas, menjelaskan bahwa pergerakan IHSG hari ini dipengaruhi oleh sentimen dari dalam dan luar negeri. Secara domestik, IHSG menunjukkan fluktuasi dengan penurunan sebesar 0,44% selama sepekan (27/2). Investor asing juga tercatat melakukan outflow sebesar Rp4,90 triliun dalam sepekan, sehingga akumulasi outflow sejak awal tahun mencapai Rp9,61 triliun (27/2/2026).
Lebih lanjut, Ratih menjelaskan bahwa Indeks PMI manufaktur Indonesia pada Februari 2026 meningkat menjadi 53,8 dari 52,6 pada bulan sebelumnya. Peningkatan ini sejalan dengan kenaikan permintaan, pesanan ekspor, dan penyerapan tenaga kerja baru. Namun, kenaikan harga bahan baku menjadi perhatian yang perlu diwaspadai. Indeks manufaktur ini mencapai level tertinggi sejak Maret 2024. Dari sisi emiten, JPFA melaporkan pendapatan sebesar Rp60,71 triliun (+8,8% yoy) dan laba bersih sebesar Rp 4 triliun (+32,6% yoy) pada 25FY.
Dari mancanegara, harga minyak mentah WTI naik 7,24% ke level USD 71,9 per barel atau naik 16,20% dalam sebulan terakhir (2/3/2026). Lonjakan harga minyak mentah ini mencerminkan meningkatnya risiko geopolitik. Ketegangan antara AS dan Iran memicu kekhawatiran terhadap pasokan minyak global, terutama dari kawasan Timur Tengah yang merupakan jalur ekspor minyak penting.
Selat Hormuz, yang berada di kawasan tersebut, menjadi jalur transit penting bagi 20% pasokan minyak global. Selain itu, pelemahan Dolar AS juga turut mendorong kenaikan harga komoditas. Sementara itu, OPEC+ menyetujui peningkatan produksi minyak sebesar 206 ribu barel per hari mulai April 2026, meskipun konflik AS-Iran berpotensi mengganggu pengiriman minyak mentah. Harga emas global juga mengalami kenaikan sebesar 1,32% menjadi USD 5.340/oz (2/3/2026) sebagai aset safe haven. Bursa Asia Pasifik dibuka melemah menyusul konflik geopolitik tersebut, dengan Indeks Nikkei 225 terkoreksi sebesar 1,76% (2/3/2026).