IHSG Anjlok 3,54 Persen Dipicu Tekanan Jual Investor Asing

IHSG ditutup merosot ke posisi 6.094,94 akibat aksi jual bersih investor asing yang mencapai ratusan miliar rupiah di bursa domestik.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kemerosotan tajam pada penutupan perdagangan Kamis (21/5). Dilansir dari Detik Finance, indeks domestik ini melemah sebesar 3,54 persen dan menempati posisi 6.094,94.

Koreksi mendalam pada indeks ini dipicu oleh besarnya tekanan aksi jual yang dilakukan oleh investor asing. Pelaku pasar luar negeri membukukan nilai jual bersih sebesar Rp508,11 miliar di pasar reguler, serta mencatat Rp544,89 miliar di seluruh pasar.

Sentimen negatif juga membayangi pasar domestik seiring perhatian para pelaku pasar terhadap laporan S&P Global Ratings. Lembaga tersebut menyoroti risiko fiskal serta kebijakan tata kelola ekspor nasional.

Kondisi ini diproyeksikan berpotensi memengaruhi neraca pembayaran sekaligus stabilitas makroekonomi Indonesia. Dampak tekanan ini turut mengoreksi indeks ETF EIDO yang turun 3,04 persen dan MSCI Indonesia yang melemah 2,56 persen.

Kendati sebagian besar saham terkoreksi, beberapa emiten tetap menjadi penopang pergerakan indeks. Saham-saham tersebut meliputi Amman Mineral Internasional (AMMN), Indofood Sukses Makmur (INDF), dan Sumber Alfaria Trijaya (AMRT).

Sebaliknya, pelemahan indeks utamanya diberatkan oleh saham Astra International (ASII), Bumi Resources Minerals (BRMS), dan Bayan Resources (BYAN). Seluruh sektor saham di Bursa Efek Indonesia berada di zona merah dengan penurunan terdalam dialami oleh sektor energi sebesar 6,91 persen.

Situasi berbeda terjadi di pasar global karena bursa saham Amerika Serikat ditutup menguat. Indeks Dow Jones merangkak naik 0,55 persen ke level 50.285, S&P 500 bertambah 0,17 persen menjadi 7.445, sedangkan Nasdaq menguat tipis 0,09 persen ke posisi 26.293.

Di tengah dinamika pasar modal, sejumlah emiten merilis target kinerja bisnis. Widodo Makmur Perkasa Tbk (WMPP) memproyeksikan pendapatan kuartal I-2026 menembus Rp2,10 triliun, atau melonjak 108,20 persen secara tahunan dari Rp1,01 triliun.

Guna merealisasikan target itu, WMPP mendongkrak kapasitas rumah potong ayam hingga 12 ribu ekor per jam. Perseroan juga mengekspansi lini ayam petelur dengan target populasi mencapai 1 juta ekor pada 2028, dari posisi saat ini sebesar 350 ribu ekor.

Pada sektor peternakan sapi, perusahaan membidik target pertumbuhan bobot harian ternak minimal 1,60 kilogram per hari. Kualitas sapi gama terus dipacu untuk memenuhi permintaan bibit premium lokal, bersamaan dengan perluasan feedlot ke Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).

Sementara itu, CRSN menargetkan perolehan pendapatan tahun 2026 senilai Rp618,16 miar, tumbuh 22,41 persen dari target tahun sebelumnya sebesar Rp504,96 miliar. Bidang inspeksi diproyeksikan menjadi penyumbang utama dengan kontribusi sebesar Rp491,11 miliar.

Manajemen CRSN memprediksi laba bersih meningkat menjadi Rp17,52 miliar dengan capaian margin laba bersih di level 2,83 persen. Demi memperlebar sayap usaha, enam anak perusahaan baru didirikan termasuk PT CARSURIN Nickel Integrity dan PT CARSURIN EcoTrust International.

Pembagian Dividen Charoen Pokphand Indonesia

Emiten lainnya, Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) mengumumkan alokasi dividen tunai sebesar Rp180 per saham untuk tahun buku 2025. Total nilai dividen tersebut mencapai Rp2,95 triliun, mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp30 per saham.

Rasio pembayaran dividen ini setara dengan 52,29 persen dari total laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk yang sebesar Rp5,64 triliun. Sepanjang tahun 2025, CPIN membukukan nilai penjualan sebesar Rp70,70 triliun atau naik 4,78 persen.

Laba bersih korporasi melonjak hingga 52,07 persen menjadi Rp5,64 triliun, yang mendorong kenaikan laba per saham ke angka Rp344. Pada sesi penutupan hari Kamis (21/5), saham CPIN bertengger pada level Rp4.270 per saham.

Bagi investor yang membidik dividen ini, jadwal cum date di pasar reguler dan negosiasi ditetapkan pada 2 Juni 2026. Selanjutnya, proses pembayaran dividen kepada pemegang saham dijadwalkan berlangsung pada 12 Juni 2026.

Recommended