IHSG Ditutup Merah di 7.097, Investor Asing Catat Net Sell

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 0,94% ke level 7.097,06 pada Jumat (27/03), didorong aksi jual bersih asing senilai Rp1,89 miliar di pasar reguler.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan pergerakan negatif pada penutupan perdagangan Jumat, 27 Maret 2026. Indeks tercatat melemah 0,94%, mengakhiri sesi di level 7.097,06.

Kondisi pasar cenderung tertekan meskipun beberapa saham berhasil mencatat penguatan. Saham ENRG melonjak 12,54%, diikuti oleh TPIA yang naik 1,72%, dan MEGA menguat 3,08%.

Sebaliknya, saham-saham dengan kapitalisasi pasar besar menjadi beban utama yang menyeret indeks turun. Saham BBCA terkoreksi 2,55%, TLKM melemah 3,79%, dan BBRI mengalami penurunan 2,01%.

Dilansir dari Detik Finance, aktivitas investor asing juga menunjukkan tren jual. Mereka mencatatkan penjualan bersih sekitar Rp1,89 miliar di pasar reguler dan total Rp1,76 triliun di seluruh pasar.

Secara sektoral, mayoritas atau delapan dari sebelas sektor mengalami pelemahan. Sektor infrastruktur menjadi yang paling terpukul dengan penurunan 1,29%. Sementara itu, sektor energi menjadi satu-satunya yang menunjukkan kekuatan, meski dengan kenaikan tipis 0,35%.

Pergerakan pasar domestik turut dipengaruhi oleh sentimen global. Bursa saham Amerika Serikat secara kompak ditutup melemah. Dow Jones turun 1,73% ke 45.166, S&P 500 terkoreksi 1,67% ke 6.368, dan Nasdaq anjlok 2,15% ke 20.948.

Tekanan ini muncul menyusul keputusan Presiden AS Donald Trump untuk memperpanjang batas waktu moratorium infrastruktur energi Iran hingga 6 April 2026. Rencana penambahan pasukan darat AS juga menjadi faktor pemicu.

Dampak sentimen tersebut terasa hingga indeks ETF Indonesia (EIDO) yang turun 1,41% dan MSCI Indonesia yang melemah 1,74%.

PT Ramayana Lestari Sentosa (RALS) melaporkan penurunan kinerja sepanjang tahun 2025. Laba bersih perusahaan tercatat sebesar Rp265,28 miliar, turun 15,52% dibandingkan Rp314,05 miliar pada tahun sebelumnya.

Penurunan laba ini sejalan dengan pendapatan RALS yang menyusut 14,31% menjadi Rp2,36 triliun. Beban pokok penjualan juga mengalami penurunan 17,64% menjadi Rp1,13 triliun.

Menurunnya pendapatan RALS disebabkan oleh berkurangnya jumlah gerai Ramayana dari 90 unit menjadi 86 unit. Namun, jumlah gerai Robinson dan Cahaya tetap tidak berubah.

Perusahaan juga melakukan penyesuaian jumlah tenaga kerja, dari 3.395 karyawan menjadi 2.968 orang. Secara teknikal, pergerakan saham RALS berpotensi melanjutkan pelemahan dengan kisaran support di area Rp428.

Sementara itu, PT Mora Telematika Indonesia (MORA) mengumumkan rencana pembelian kembali sahamnya dengan nilai maksimal Rp1,02 triliun. Aksi korporasi ini dilakukan dalam rangka rencana penggabungan usaha dengan PT Bersama Eka Mas Republik (EMR).

Investor yang tidak ingin berpartisipasi dalam rencana penggabungan tersebut memiliki opsi untuk menjual sahamnya dengan harga Rp432 per saham. Periode pengajuan buyback dijadwalkan pada 1–10 April 2026, dengan penyelesaian transaksi pada 17 April 2026.

Jika jumlah saham yang diajukan melebihi batas yang ditentukan, kelebihannya akan dialihkan kepada pihak ketiga, yaitu PT Innovate Mas Utama (IMU). Proses penggabungan usaha antara MORA dan EMR ditargetkan mulai berlaku efektif pada 22 April 2026.

Recommended