Era baru MotoGP di bawah kepemilikan Liberty Media mulai menunjukkan perubahan signifikan. Terinspirasi dari sukses Formula 1 (F1), MotoGP kini sedang menggodok aturan yang mewajibkan setiap pabrikan memiliki pembalap cadangan permanen, yang harus hadir di setiap akhir pekan balapan, dilansir dari Bola.
Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Jadwal balap yang kian padat dengan adanya Sprint Race telah meningkatkan risiko cedera bagi para pembalap utama. Berkaca pada kasus Marc Marquez atau Jorge Martin yang sempat absen lama, penyelenggara tidak ingin grid balapan terlihat "ompong" atau diisi pengganti yang kurang kompetitif.
Sejak Dorna Sports bertransformasi menjadi MotoGP Sports Entertainment Group (MotoGP SEG), fokus utama bergeser pada aspek pertunjukan global. Masalah muncul ketika pembalap bintang cedera, seringkali tim kesulitan mencari pengganti di menit-menit terakhir yang memiliki level performa setara.
Poin-poin utama dari rencana regulasi baru ini meliputi beberapa aspek. Pembalap cadangan diwajibkan selalu berada di sirkuit sejak hari Jumat hingga Minggu, serupa dengan sistem di F1.
Mereka tidak hanya bertugas sebagai penonton VIP, melainkan harus siap melompat ke atas motor kapan saja jika pembalap utama dinyatakan tidak fit. Pabrikan didorong merekrut nama-nama besar atau talenta muda potensial sebagai cadangan agar kualitas balapan tetap terjaga meski ada pergantian pembalap.
Pembelajaran dari Kesuksesan Formula 1
Di ajang F1, nama-nama seperti Oliver Bearman atau Liam Lawson telah membuktikan betapa krusialnya peran pembalap cadangan. Saat Carlos Sainz absen karena usus buntu di GP Arab Saudi, Bearman mampu tampil impresif dan menjaga gairah kompetisi. Inilah yang ingin direplikasi oleh MotoGP.
Sistem "Super-Sub" ini diharapkan mampu meminimalisir kerugian sponsor dan penyelenggara saat ada pembalap top yang absen. Selain itu, ini menjadi peluang emas bagi pembalap muda berbakat untuk tetap berada di lingkungan MotoGP meskipun belum mendapatkan kursi reguler.
Perubahan ini juga menyoroti transformasi nama Dorna Sports menjadi MotoGP Sports Entertainment Group (MotoGP SEG) mulai musim 2026, di bawah kepemilikan baru Liberty Media. Dorna, yang memegang hak komersial sejak 1992, telah menjadi arsitek utama pertumbuhan MotoGP modern.
Pada 2024, Liberty Media mengakuisisi Dorna dan seluruh asetnya senilai 4,2 miliar euro. Meskipun demikian, struktur manajemen lama yang dipimpin CEO Carmelo Ezpeleta tetap dipertahankan. Pergantian nama ini merupakan perubahan struktural paling signifikan sejak Liberty Media resmi mengambil alih Kejuaraan Dunia Balap Motor.
Sinyal Arah Baru dan Stabilitas Struktur
Carmelo Ezpeleta menegaskan bahwa perubahan nama ini bukan sekadar rebranding, melainkan sinyal arah baru. "MotoGP telah berkembang jauh melampaui sekadar kejuaraan. Ia telah menjadi properti hiburan global yang diikuti penuh gairah di seluruh dunia," tutur Ezpeleta.
MotoGP SEG berambisi mempercepat inovasi dan ekspansi global, sekaligus tetap menjaga nilai dan semangat balap yang menjadi identitas kejuaraan. Hampir dua tahun sejak Liberty Media mengambil alih, belum ada perubahan besar dalam struktur manajemen, kecuali mundurnya Chief Commercial Officer Dan Rossomondo pada akhir tahun lalu.
Di bawah nama baru ini, MotoGP SEG tetap mengendalikan seluruh ekosistem balapnya, termasuk Moto2, Moto3, World Superbike, hingga Program Road to MotoGP: Harley Davidson Bagger World Cup. Namun, masuknya WorldSBK di bawah payung identitas MotoGP SEG menimbulkan kekhawatiran bahwa kejuaraan berbasis motor produksi itu bisa semakin kehilangan karakter uniknya.
Dampak Bagi Tim dan Anggaran
Meskipun rencana ini disambut baik untuk keberlangsungan tontonan, tim-tim pabrikan kini harus memutar otak terkait anggaran. Membayar pembalap berkualitas untuk tetap standby tentu memerlukan biaya tambahan di tengah ketatnya pembatasan anggaran (budget cap).
Namun, dengan ambisi Liberty Media menjadikan MotoGP sebagai "tontonan global" layaknya F1, standarisasi ini tampaknya tinggal menunggu waktu untuk diresmikan. Diskusi mengenai kerangka kerja komersial untuk lima tahun ke depan antara para produsen (MSMA) dan MotoGP SEG masih berlanjut, dengan aspek finansial menjadi titik konflik utama.
Tim-tim menginginkan model serupa F1, di mana mereka menerima bagian dari keuntungan, sementara MotoGP SEG ingin mempertahankan struktur pembayaran tetap yang independen dari pendapatan keseluruhan. Proposal terbaru dipahami sekitar €8 juta, meningkat €1 juta dari kesepakatan saat ini yang akan berakhir pada akhir 2026, namun tim merasa kenaikan tersebut belum memadai.
Pembicaraan Kontrak dan Masa Depan MotoGP
Negosiasi yang telah berlangsung lebih dari setahun ini menunda pengumuman penandatanganan dan perpanjangan kontrak pembalap yang sudah disepakati untuk 2027. Para produsen melihat momen ini sebagai kesempatan unik untuk menekan tuntutan mereka, terutama setelah akuisisi oleh Liberty Media.
Anggota MSMA, termasuk perwakilan dari Ducati, Aprilia, KTM, Honda, dan Yamaha, telah mengadakan pertemuan untuk mendefinisikan strategi negosiasi. Selain ketentuan finansial, ada juga klausa terkait kepemilikan slot tim dan tingkat kontrol atasnya, terutama mengenai masuknya calon investor.
MotoGP SEG juga menuntut agar tim memperkuat departemen pemasaran dan komunikasi mereka, serta memiliki prototipe MotoGP yang berfungsi penuh untuk acara promosi. Tim juga diminta meningkatkan tingkat keramahan bagi tamu, terutama di acara luar negeri, di mana "usulan saat ini menawarkan kenaikan €1 juta, tetapi semua yang mereka minta dari kami sudah jauh lebih mahal dari itu," kata sumber yang akrab dengan negosiasi.
Saat ini, promotor, produsen, dan tim independen semuanya memiliki niat mencapai kesepakatan karena mereka semua ingin bersaing pada 2027. MSMA harus terlebih dahulu menandatangani dengan MotoGP SEG, setelah itu tim independen akan mengikuti.