IHSG Melemah 1,70 Persen ke Level 6976 pada 30 Maret 2026

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah 1,70 persen ke level 6976 pada Senin, 30 Maret 2026. Indeks LQ45 dan JII juga anjlok.

Pembukaan awal pekan ini menunjukkan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang melemah signifikan. Tercatat pada perdagangan Senin, 30 Maret 2026, IHSG dibuka anjlok sebesar 1,70 persen, berada pada level 6976.

Kondisi serupa juga dialami oleh indeks unggulan lainnya. Indeks LQ45 jatuh 1,97 persen, menempatkan posisinya pada level 705,64. Sementara itu, indeks unggulan syariah JII turut anjlok 1,67 persen, mencapai level 464. Penurunan ini memperpanjang tren pelemahan yang terjadi pada akhir pekan sebelumnya.

Sebelumnya, IHSG juga mengalami pelemahan pada perdagangan Jumat, 27 Maret 2026, dengan penurunan 0,94 persen ke level 7.097,06. Sejumlah saham berkapitalisasi besar seperti BBCA, BBRI, BMRI, ASII, dan ANTM tercatat anjlok pada pembukaan perdagangan hari ini.

Seperti dilansir dari Medcom, tekanan di pasar modal terutama dipicu oleh aksi jual yang dilakukan oleh investor asing. Arus keluar dana asing mencapai nilai signifikan hingga Rp1,76 triliun. Pada pekan lalu, saham-saham perbankan berkapitalisasi besar, termasuk BBCA, BBRI, BBNI, dan BMRI, menjadi target utama penjualan, berkontribusi besar terhadap pelemahan indeks.

Sentimen negatif ini diperparah oleh kondisi eksternal, yaitu meningkatnya tensi geopolitik di Iran dan lonjakan harga minyak dunia. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) dilaporkan naik tajam 5,46 persen, mencapai USD99,64 per barel, memicu kekhawatiran akan peningkatan inflasi global kembali.

Di ranah global, indeks saham utama juga kompak menunjukkan pelemahan. Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) terkoreksi 1,73 persen menjadi 45.166,64. Di sisi lain, indeks ETF Indonesia, EIDO, mengalami penurunan yang lebih dalam, yakni 1,41 persen, sementara FTSE 100 di Inggris relatif stabil dengan penurunan tipis 0,05 persen.

Dari pasar valuta asing, nilai tukar rupiah terdepresiasi sebesar 0,45 persen, mencapai level Rp16.980 per dolar AS. Meskipun demikian, imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun tetap bertahan di level 6,86 persen.

Pelaku pasar kini mencermati beberapa sentimen penting dalam pekan ini. Fokus utama tertuju pada pidato Ketua The Fed Jerome Powell serta rilis data ekonomi Amerika Serikat, yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan suku bunga global.

Di dalam negeri, pasar menantikan rilis data inflasi dan neraca perdagangan, serta arah kebijakan fiskal pemerintah. Kombinasi faktor global dan domestik ini berpotensi menambah tekanan pada nilai tukar rupiah, pasar obligasi (SBN), dan IHSG dalam jangka pendek.

Ekspektasi pasar telah berubah, dengan skeptisisme terhadap kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS pada tahun ini semakin meningkat. Sentimen ini tercermin dari lonjakan indeks volatilitas (VIX) lebih dari 13 persen, menandakan peningkatan kecemasan di kalangan investor. Selain itu, indikator risiko dalam negeri juga menunjukkan peningkatan, dengan Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor 5 tahun yang naik, mencerminkan persepsi risiko yang membesar di mata investor global.

Secara keseluruhan, gabungan antara ketegangan geopolitik, lonjakan harga energi, dan perubahan ekspektasi kebijakan moneter menjadi faktor utama penekan pasar. Volatilitas diproyeksikan masih tinggi dalam jangka pendek, seiring pelaku pasar terus memantau dinamika global dan disarankan untuk menjaga strategi investasi yang lebih selektif.

Recommended