IHSG Melemah ke Level 7.623 Akibat Aksi Jual Investor Asing

IHSG ditutup turun 0,68 persen pada Rabu (15/4) dipicu aksi jual bersih investor asing senilai Rp1,23 triliun meski sektor transportasi mengalami kenaikan.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah sebesar 0,68 persen ke posisi 7.623,59 pada akhir perdagangan Rabu (15/4/2026). Penurunan ini dipicu oleh tekanan jual pada sejumlah saham perbankan besar di tengah aksi jual bersih investor asing yang cukup masif.

Berdasarkan data yang dilansir dari Detik Finance, investor asing mencatatkan nilai jual bersih mencapai Rp1,23 triliun di pasar reguler. Secara total, nilai penjualan bersih asing di seluruh pasar menyentuh angka Rp1,16 triliun pada hari yang sama.

Pelemahan indeks utamanya disebabkan oleh koreksi harga saham BBCA sebesar 2,96 persen, SRAJ jatuh 13,82 persen, dan BBRI menyusut 1,73 persen. Sebaliknya, saham MDKA melonjak 4,36 persen, ASII naik 2,44 persen, dan DSSA menguat 1,52 persen namun belum mampu mengangkat IHSG ke zona hijau.

Sektor kesehatan menjadi beban terberat dengan koreksi sedalam 2,81 persen, sementara sektor transportasi menunjukkan performa terbaik dengan kenaikan 3,45 persen. Kondisi pasar domestik ini berbanding terbalik dengan bursa Amerika Serikat yang bergerak variatif, di mana Nasdaq melonjak 1,60 persen dan S\&P 500 naik 0,80 persen.

Di sisi kebijakan, pemerintah melalui Kepmen ESDM Nomor 144.K/MB.01/MEM.B/2026 resmi menetapkan formula baru Harga Patokan Mineral (HPM) nikel dan bauksit mulai 15 April. Penentuan harga nikel kini turut menghitung kandungan mineral tambahan seperti besi, kobalt, dan krom guna menyesuaikan dengan standar harga global.

Pada komoditas bauksit, pemerintah memperluas parameter harga dengan memasukkan unsur reaktif silika dan mengubah satuan harga menjadi WMT. Langkah ini bertujuan untuk mendukung penerimaan negara, meski diperkirakan akan meningkatkan beban operasional pada industri pengolahan mineral.

Dari lantai bursa, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) mengumumkan pembagian dividen final sebesar Rp335 per saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST). Total dividen untuk tahun buku 2025 yang diberikan perusahaan mencapai Rp458 per saham atau setara Rp881,5 miliar.

Manajemen AALI menjadwalkan pembayaran sisa dividen sebesar Rp647 miliar pada 13 Mei 2026 mendatang. Dana hasil laba bersih yang tidak dibagikan sebagai dividen akan dialokasikan perusahaan sebagai cadangan biaya program penanaman kembali atau replanting lahan sawit.

Recommended