IHSG Melemah 0,56% di Tengah Ketidakpastian Konflik AS-Iran pada 9 April 2026

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah 0,56% ke posisi 7.238,46 pada Kamis, 9 April 2026, dibayangi ketidakpastian konflik AS-Iran.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan pelemahan pada pembukaan perdagangan Kamis, 9 April 2026, dengan penurunan sebesar 0,56% ke level 7.238,46. Pergerakan ini sejalan dengan bursa kawasan Asia, di mana pelaku pasar masih mencermati perkembangan konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kondisi geopolitik yang belum stabil ini turut memengaruhi sentimen pasar, seperti dilansir dari Medcom.

Kelompok 45 saham unggulan, Indeks LQ45, juga mengalami penurunan 0,69% menjadi 728,57. Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, dalam kajiannya menyatakan, IHSG memiliki peluang untuk menguat jika berhasil menembus level resistance 7.325. Jika level tersebut terlampaui, indeks berpotensi melaju menuju target resistance jangka menengah di 7.600.

Di kancah internasional, AS dan Iran sempat mencapai kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu, dengan mediasi dari Pakistan. Kesepakatan ini mencakup penundaan serangan AS terhadap Iran menjelang tenggat waktu pembukaan Selat Hormuz. Presiden AS Donald Trump kala itu menyatakan AS telah mencapai tujuan militer utama dan menerima proposal perdamaian 10 poin dari Iran sebagai dasar negosiasi.

Sementara itu, Iran menegaskan akan menghentikan operasi defensif dan memastikan jalur pelayaran aman melalui Selat Hormuz selama koordinasi dilakukan dengan militernya. Namun, setelah kesepakatan tersebut, Iran menuduh AS melanggar tiga klausul utama proposal bahkan sebelum negosiasi dimulai. Pelanggaran yang dituduhkan meliputi pelanggaran gencatan senjata di Lebanon, masuknya drone ke wilayah udara Iran, serta penolakan hak pengayaan uranium.

Lebih lanjut, Iran juga menuduh Israel melanggar kesepakatan dengan melancarkan serangan besar ke Lebanon. Israel membantah tuduhan tersebut, menyatakan bahwa Lebanon tidak termasuk dalam gencatan senjata dan akan terus menyerang Hizbullah. Dalam kondisi ini, Iran menganggap gencatan senjata menjadi tidak masuk akal dan mengancam akan menarik diri dari kesepakatan. Iran juga berpandangan gencatan senjata mencakup seluruh front termasuk Lebanon, berbeda dengan posisi AS.

Sebagai tanggapan, Iran berencana mengenakan biaya penggunaan mata uang kripto bagi kapal tanker yang melintas di Selat Hormuz, sekaligus tetap mewajibkan izin pelayaran melalui jalur tersebut. Ketidakpastian ini menyebabkan harga minyak mentah mengalami volatilitas ekstrem. Harga minyak jenis WTI dan Brent masing-masing berada di level 97,10 dolar AS per barel pada pagi hari 08.55 WIB.

Kondisi Ekonomi Domestik dan Cadangan Devisa

Dari sisi domestik, cadangan devisa Indonesia mengalami penurunan signifikan. Data menunjukkan cadangan devisa turun dari 151,9 miliar dolar AS pada Februari 2026 menjadi 148,2 miliar dolar AS pada Maret 2026. Angka ini merupakan yang terendah sejak Juli 2024.

Penurunan ini disebabkan oleh intervensi Bank Indonesia (BI) untuk menahan pelemahan nilai tukar rupiah di tengah tekanan geopolitik dan tingginya yield global. Meskipun masih di atas standar kecukupan (sekitar enam bulan impor), penurunan cadangan devisa ini mencerminkan tekanan dari neraca perdagangan yang melemah dan outflow portofolio, serta meningkatnya biaya intervensi di tengah kondisi global yang volatil.

Arah cadangan devisa di masa depan akan sangat bergantung pada kondisi finansial global, termasuk yield AS dan kebijakan Federal Reserve (The Fed), keberlanjutan surplus perdagangan, serta kredibilitas kebijakan domestik. Meskipun outlook cadangan devisa diproyeksikan tetap stabil, pemulihan diperkirakan akan berlangsung secara bertahap.

Selain itu, pelaku pasar obligasi global berpotensi pulih setelah gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, namun kecil kemungkinan kembali ke level sebelum perang. Investor menilai tekanan inflasi dan harga energi yang tetap tinggi akan membatasi ruang penurunan suku bunga.

Eskalasi lanjutan di kawasan Timur Tengah memunculkan keraguan terhadap keberlanjutan kesepakatan tersebut. Pasar menilai ekspektasi penurunan suku bunga yang sebelumnya muncul di Amerika Serikat, Inggris, dan Norwegia tidak lagi relevan. Bahkan, sebagian investor melihat risiko suku bunga justru cenderung meningkat, seiring berkurangnya ancaman perlambatan ekonomi akibat krisis energi.

Proyeksi Pasar Saham dan Rekomendasi

Beberapa sekuritas memberikan proyeksi dan rekomendasi terkait pergerakan IHSG. BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan IHSG masih berpotensi melanjutkan kenaikan terbatas dengan support di level 7.200 dan resistance di 7.300. Pergerakan ini masih dikategorikan sebagai technical rebound di tengah ketidakpastian global.

Saham pilihan BRI Danareksa Sekuritas mencakup BUVA, RAJA, dan OASA. Sementara itu, Phintraco Sekuritas melihat kenaikan indeks dipicu oleh harapan meredanya perang di Timur Tengah serta penurunan tajam harga minyak mentah. Namun, serangan Israel terhadap Lebanon menjadi perhatian utama, yang dapat membuat gencatan senjata rentan.

Phintraco Sekuritas merekomendasikan saham BBNI, BBCA, UNVR, ISAT, dan ASII. CGS International Sekuritas Indonesia memaparkan, menguatnya Bursa Wall Street pasca gencatan senjata dan kenaikan harga komoditas mineral logam seiring pelemahan dolar AS akan menjadi sentimen positif. Penguatan rupiah dan aliran dana asing juga berpeluang menjadi tambahan sentimen.

CGS International Sekuritas memprediksi IHSG akan melanjutkan penguatan dengan kisaran support 7.200–7.120 dan resistance 7.360–7.440. Saham pilihan mereka adalah TINS, ARCI, ANTM, MDKA, BBCA, dan BBNI. Panin Sekuritas juga memproyeksikan IHSG berpotensi menguat didorong oleh membaiknya tensi geopolitik, penguatan harga komoditas, dan kembalinya dana asing. Saham pilihan Panin Sekuritas meliputi AADI, ITMG, dan PWON.

Recommended