Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah 31,04 poin atau 0,41 persen ke level 7.528,34 pada perdagangan Rabu, 22 April 2026 pagi. Penurunan ini terjadi saat pelaku pasar domestik bersikap waspada menjelang pengumuman suku bunga acuan atau BI Rate oleh Bank Indonesia siang nanti.
Melansir data perdagangan yang dilansir dari Medcom, indeks saham unggulan LQ45 juga mengalami koreksi sebesar 1,03 persen atau turun 7,66 poin ke posisi 736,01. Kondisi pasar saat ini didominasi oleh aksi wait and see terkait kebijakan moneter terbaru yang akan diambil otoritas moneter.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, memproyeksikan pergerakan indeks akan fluktuatif dengan potensi pelemahan terbatas. Berdasarkan analisis teknikal, wilayah pergerakan IHSG diperkirakan berada pada rentang titik support 7.500 dan resistance 7.850.
Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia diprediksi masih akan mempertahankan tingkat BI Rate pada level 4,75 persen. Selain suku bunga, investor tengah mencermati data pertumbuhan kredit periode Maret 2026 yang diperkirakan melambat menjadi 7,5 persen dibandingkan capaian Februari sebesar 9,37 persen.
Di sisi lain, lembaga indeks global MSCI masih mengevaluasi sejumlah reformasi pasar modal Indonesia, termasuk aturan pemegang saham di atas 1 persen dan kenaikan ambang batas free float. Akibatnya, MSCI memutuskan untuk membekukan sementara proses rebalancing indeks saham Indonesia untuk periode Mei 2026.
"Langkah MSCI juga bisa dilihat sebagai positive medium-term signal, karena jika reformasi OJK-BEI-KSEI berhasil meningkatkan transparansi secara kredibel, maka peluang peningkatan bobot Indonesia dalam indeks global akan lebih besar," ujar Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas.
Sentimen global turut dipengaruhi oleh pengumuman Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengenai perpanjangan gencatan senjata dengan Iran tanpa batas waktu meski blokade Selat Hormuz tetap berlanjut. Hal ini memberikan sedikit kepastian bagi investor global di tengah ketegangan geopolitik yang masih berlangsung di kawasan Timur Tengah.