Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam sebesar 1,63 persen ke level 6857 pada pembukaan perdagangan Senin, 11 Mei 2026. Pelemahan ini memperpanjang tren negatif setelah indeks ditutup terkoreksi dalam pada sesi perdagangan sebelumnya.
Dilansir dari Medcom, indeks-indeks sektoral lainnya juga terpantau bergerak di zona merah. Indeks saham syariah Jakarta Islamic Index (JII) merosot 2,25 persen ke posisi 441, sementara indeks saham unggulan LQ45 turun 1,91 persen ke level 664.
Kondisi ini terjadi setelah IHSG pada penutupan perdagangan pekan lalu mengalami tekanan sebesar 2,86 persen ke level 6.969,40. Penurunan tersebut juga diikuti oleh indeks LQ45 yang turun 2,39 persen dan IDX30 yang melemah 2,13 persen.
Meskipun mayoritas saham terkoreksi, terdapat tiga saham yang mencatatkan penguatan tipis saat pasar dibuka, yaitu MAPI, ASII, dan BBCA. Di sisi lain, nilai tukar Rupiah berada di posisi Rp17.382 per dolar AS pada pasar spot, dengan kurs JISDOR tercatat di level Rp17.375.
Pada pasar obligasi, imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun Indonesia mengalami penurunan ke level 6,7614 persen. Pelemahan yield juga terjadi pada US Treasury tenor 10 tahun yang kini berada di posisi 4,364 persen.
Situasi pasar domestik berbanding terbalik dengan bursa saham Amerika Serikat yang justru menguat pada Jumat waktu setempat. Indeks S&P 500 naik 0,84 persen ke level 7.399, didorong oleh data ketenagakerjaan April yang melampaui ekspektasi pasar.
Bursa Eropa mayoritas ditutup melemah dengan indeks DAX turun 1,32 persen dan CAC 40 terkoreksi 1,09 persen. Sementara itu, bursa Asia bergerak variatif dengan Nikkei 225 turun 0,19 persen dan Hang Seng Index melemah 0,37 persen.
Harga komoditas energi menunjukkan tren beragam dengan minyak mentah WTI naik 0,64 persen ke USD95,42 per barel. Sebaliknya, harga minyak Brent turun 2,13 persen menjadi USD101,29 per barel, dan harga emas Comex naik 0,42 persen ke USD4.730,70 per troy ounce.