Aprilia Ungguli Ducati di MotoGP 2026: Bezzecchi dan Martin Dominan

Aprilia menunjukkan dominasi mengejutkan di awal MotoGP 2026, mengalahkan Ducati di Thailand dan Brasil. Marco Bezzecchi menjadi pembalap yang menonjol.

Awal musim MotoGP 2026 menyajikan kejutan signifikan dengan runtuhnya dominasi Ducati di Sirkuit Buriram, Thailand. Meski telah menunjukkan performa menjanjikan selama tes pramusim, pabrikan asal Italia itu gagal menempatkan satu pun pebalapnya di podium, baik pada sesi Sprint Race maupun Main Race.

Hasil ini menandai kali pertama sejak MotoGP Inggris 2021, tidak ada pebalap Ducati yang finis di tiga besar. Rekor 88 balapan beruntun dengan podium pun harus terhenti.

Juara dunia dua kali, Pecco Bagnaia, mengungkapkan keterkejutannya atas kegagalan tim Ducati menembus podium. Pebalap tersebut hanya mampu finis di posisi kesembilan, terpaut 18,340 detik dari pemenang.

Bagnaia sebelumnya merasa yakin dengan motor Ducati Desmosedici GP26 yang sangat kompetitif selama tes pramusim di Sepang, Malaysia, dan Buriram. "Setelah tes, saya akan bilang itu mustahil terjadi," ujar Bagnaia kepada Moto.it, seperti dilansir dari Bola.

Ia melanjutkan, "Saat tes kami sangat cepat dan punya pace bagus. Tapi sejak awal akhir pekan ini, saya merasakan kondisi yang berbeda." Bagnaia juga mengakui kalah kompetitif dibandingkan pebalap Ducati lainnya, terutama saat time attack pada balapan MotoGP Thailand.

"Terutama di flying lap, dan terutama Marc yang juga kompetitif saat balapan. Kami tidak dalam posisi untuk banyak bicara di sini. Kami hanya mencoba menyelesaikan balapan," tambahnya.

Gelaran di Sirkuit Buriram menjadi panggung gemilang bagi Aprilia Racing. Marco Bezzecchi berhasil tampil dominan dan memenangkan balapan dengan selisih lebih dari lima detik di atas Pedro Acosta yang menempati posisi kedua. Raul Fernandez melengkapi podium ketiga.

Kinerja Aprilia semakin mengesankan dengan empat pebalapnya finis di lima besar, menjadi sinyal jelas bahwa peta kekuatan di MotoGP mulai mengalami pergeseran. Sementara itu, hasil terbaik bagi Ducati diraih oleh Fabio Di Giannantonio di posisi keenam.

Nasib kurang beruntung dialami dua bersaudara Marquez. Marc Marquez harus mundur lebih awal akibat ban belakangnya bocor setelah menghantam kerb, disusul oleh Alex Marquez yang juga terjatuh. Franco Morbidelli finis kedelapan, tepat satu posisi di depan Pecco Bagnaia.

Tanggapan Bos Michelin

Dominasi Aprilia pada seri-seri awal MotoGP 2026, termasuk di Thailand dan Brasil, sempat memicu spekulasi mengenai 'bantuan' ban khusus. Banyak rival menuding kejayaan Marco Bezzecchi dan Jorge Martin disebabkan oleh bonus dari ban Michelin yang lebih kaku.

Namun, Piero Taramasso, Bos Michelin MotoGP, menampik tudingan tersebut. Ia menjelaskan bahwa pada awal 2026, Michelin memang memperkenalkan ban dengan karkas yang lebih keras untuk mengatasi suhu ekstrem di Buriram dan karakteristik sirkuit Goiania yang menuntut ketahanan tinggi.

Meskipun demikian, Taramasso menegaskan bahwa kemenangan beruntun Aprilia bukanlah karena ban, melainkan murni performa motor. "Saya selalu berpikir bahwa itu bukan karena ban (yang lebih kaku), karena kami telah menawarkan karkas terkeras selama beberapa musim sekarang," tegas Taramasso dalam wawancara dengan Motorsport, dikutip dari Tribunnews.com.

Menurutnya, argumen teknis yang menyatakan ban kaku menjadi kunci kemenangan Aprilia adalah lemah. "Semua orang tahu cara menginterpretasikannya dan bagaimana mengerjakan pengaturannya (set-up). Saat ini, Aprilia benar-benar memiliki sesuatu yang lebih dalam hal performa motor," jelasnya.

Fakta ini semakin terbukti ketika balapan berpindah ke Circuit of the Americas (COTA) di Amerika Serikat. Meskipun Michelin kembali menggunakan spesifikasi ban standar, Aprilia tetap unggul dengan kemenangan Sprint perdana dan finis 1-2 di balapan utama, sementara Ducati tetap tanpa podium.

Masa Depan Marc Marquez

Di tengah ketatnya persaingan, masa depan Marc Marquez kembali menjadi sorotan. Sang bintang dikabarkan berpotensi pensiun jika berhasil merebut gelar MotoGP 2026. Spekulasi ini mencuat setelah performa Marquez di awal musim 2026 belum sepenuhnya meyakinkan.

Meskipun difavoritkan sebagai kandidat juara, Marquez belum mampu finis podium dalam balapan utama hingga tiga seri awal, seperti dilaporkan Bola. Padahal, Marquez baru saja mencatatkan gelar juara dunia ketujuh di kelas utama pada tahun 2025.

Faktor fisik dan mental menjadi sorotan. Cedera bahu yang dialami Marquez sejak musim lalu masih membayangi performanya. Pembalap Spanyol itu sendiri mengakui situasinya cukup krusial.

Mantan pebalap, Marco Melandri, berani memprediksi terkait masa depan Marquez. "Jika dia kembali juara, enggak usah kaget jika dia memutuskan pensiun di akhir musim," katanya. Menurut Melandri, mencapai gelar kesepuluh di grand prix bisa menjadi titik puncak karier yang ideal bagi Marquez untuk mengakhiri perjalanan di MotoGP.

MotoGP 2026 memang masih panjang, namun satu pesan telah jelas: dominasi Ducati tidak lagi absolut. Pembukaan musim ini dengan kejutan besar di Buriram menjadi awal persaingan yang lebih sengit dan menarik.

Recommended