Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup merosot tajam sebesar 2,86 persen ke posisi 6.969,40 pada sesi perdagangan Jumat (8/5/2026). Dilansir dari Detik Finance, pelemahan signifikan ini terjadi akibat tekanan jual pada mayoritas sektor saham di Bursa Efek Indonesia.
Sektor industri dasar mencatatkan penurunan terdalam hingga 7,80 persen dan menjadi beban utama indeks sepanjang hari. Sebaliknya, sektor kesehatan justru menjadi satu-satunya kelompok saham yang mencatat penguatan tertinggi sebesar 0,70 persen di tengah tren negatif pasar.
Beberapa saham penggerak pasar yang berhasil menguat di antaranya Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) sebesar 20 persen dan Telkom Indonesia Tbk (TLKM) naik 1,02 persen. Namun, pelemahan saham Barito Renewables Energy Tbk (BREN) sebesar 11,83 persen dan Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) sebesar 14,94 persen menekan laju indeks.
Investor asing mencatatkan aksi jual bersih senilai Rp485,02 miliar di pasar reguler pada penutupan pekan ini. Meski demikian, akumulasi posisi asing secara keseluruhan masih menunjukkan beli bersih sebesar Rp11,42 triliun di seluruh pasar modal Indonesia.
Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh rencana Pemerintah Indonesia merevisi PP Nomor 19 Tahun 2025 mengenai tarif royalti mineral. Kementerian ESDM tengah mengkaji penyesuaian tarif untuk tembaga, nikel, emas, dan perak akibat lonjakan Harga Mineral Acuan (HMA) yang signifikan sepanjang tahun 2026.
Dalam usulan kebijakan tersebut, tarif royalti emas diusulkan naik menjadi 14-20 persen, sementara tembaga menjadi 7-10 persen. Kenaikan biaya royalti ini diprediksi akan berdampak langsung pada margin keuntungan perusahaan tambang mineral jika regulasi tersebut resmi diundangkan.
Pada berita emiten, BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) masuk dalam daftar High Shareholding Concentration (HSC) dengan konsentrasi kepemilikan mencapai 95,82 persen. Di sisi lain, Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) resmi memiliki pengendali baru setelah Pacific Universal Investments mengakuisisi 51 persen saham senilai Rp11,81 triliun.