IHSG Terkoreksi ke Level 6.900-an pada 16 Maret 2026

Pada 16 Maret 2026, IHSG mengalami penurunan ke level 6.900-an, sejalan dengan pelemahan bursa saham Asia lainnya.

Pada awal perdagangan Senin, 16 Maret 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan dari level 7.000 ke 6.900-an. Pelemahan ini selaras dengan tren negatif yang terjadi di sejumlah bursa saham Asia.

Data perdagangan RTI Business menunjukkan bahwa IHSG sempat merosot lebih dari 3% hingga mencapai level terendah di 6.917,32. Namun, pada pukul 09.54 WIB, IHSG berhasil memangkas koreksinya menjadi 2% dan berada di posisi 6.994,57.

Selain IHSG, beberapa bursa saham Asia lainnya juga mengalami penurunan. Nikkei 225 Indeks (N225) melemah 1,27% ke level 53.138,39, sementara Shanghai Composite Index (SSEC) terkoreksi 1,08% ke level 4.051,02.

Straits Times Index (STI) di Singapura juga mencatat penurunan tipis sebesar 0,05% ke level 4.839,97. Berbeda dengan yang lain, Hang Seng Index (HSI) justru menguat sebesar 0,12% ke level 25.497,19.

Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran menjadi pemicu utama volatilitas di bursa saham Asia. Kondisi ini menyebabkan harga minyak dunia mengalami kenaikan.

Sebagian besar bank sentral terpaksa menunda kebijakan moneternya akibat ketegangan geopolitik ini, yang dianggap memperumit prospek inflasi. Inflasi menjadi salah satu pertimbangan utama bank sentral dalam menentukan arah kebijakan.

Harga minyak Brent saat ini naik 0,8% menjadi US$ 104,01 per barel, sementara harga minyak mentah AS turun 0,2% menjadi US$ 98,48 per barel.

Sejumlah bank sentral dari AS, Inggris, Eropa, Jepang, Australia, Kanada, Swiss, dan Swedia dijadwalkan menggelar pertemuan untuk membahas lonjakan harga energi. JP Morgan memperkirakan bahwa bank sentral ini akan menetapkan prakiraan kenaikan inflasi dan rendahnya pertumbuhan ekonomi.

Kepala Ekonom JP Morgan, Bruce Kasman, menyatakan, "Prakiraan bank sentral akan langsung condong ke inflasi yang lebih tinggi dan pertumbuhan yang lebih rendah. Sejalan dengan pandangan ini, kami telah menunda atau membatalkan tindakan sebagian besar bank sentral yang diperkirakan akan bertindak pada bulan Maret dan April," dikutip dari Reuters, Senin (16/3/2026).

Kontrak berjangka Eropa (EUROSTOXX 50) dan kontrak berjangka DAX masing-masing naik 0,2%, sementara kontrak berjangka FTSE naik 0,3%. Kontrak berjangka S&P 500 dan Nasdaq juga mengalami kenaikan sebesar 0,4% di tengah gejolak perdagangan.

Selain kenaikan harga energi, kombinasi tekanan fiskal akibat peningkatan pengeluaran pertahanan juga menjadi tantangan bagi pasar keuangan global. Hal ini menyebabkan kenaikan imbal hasil obligasi dua digit secara global pada pekan lalu.

Imbal hasil obligasi Treasury sepuluh tahun berada di angka 4,267%, setelah naik 32 basis poin sejak perang dimulai. Kontrak berjangka telah secara tajam mengurangi ruang lingkup untuk penurunan suku bunga di masa mendatang.

Bank Sentral AS (The Fed) diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan hari Rabu mendatang. Peluang pelonggaran kebijakan moneter hingga Juni telah turun menjadi hanya 26%, dari 69% sebulan yang lalu.

Investor akan fokus pada hasil pertemuan The Fed dan peluang pelonggaran kebijakan moneter lebih lanjut untuk tahun ini. Bank sentral Australia diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan menjadi 4,1% untuk mengatasi inflasi yang kembali meningkat.

Recommended