IHSG Terkoreksi, JPFA Catat Laba Bersih Naik 32,63%

IHSG ditutup melemah 2,66%. JPFA mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 32,63% secara tahunan di tahun 2025.

PT Mega Capital Sekuritas, yang merupakan bagian dari CT Corpora, telah menyediakan layanan investasi yang inovatif dengan dukungan tenaga ahli sejak tahun 1991.

Pada penutupan perdagangan Senin (02/03), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan sebesar 2,66% dan berada di level 8.016,83. Tekanan pasar ini terjadi seiring dengan aktivitas jual bersih oleh investor asing yang mencapai Rp490,53 miliar di pasar reguler dan Rp631,02 miliar di seluruh pasar.

Di tengah pelemahan IHSG, beberapa saham justru mengalami kenaikan yang signifikan. Saham ENRG naik 25,00%, BRMS meningkat 4,12%, dan MDKA menguat 5,07%. Sementara itu, saham BREN turun 5,47%, BMRI terkoreksi 3,79%, dan ASII melemah 5,62% yang menjadi penekan utama IHSG.

Dari sisi sektoral, 10 dari 11 sektor mengalami penurunan. Sektor cyclical mencatat penurunan terdalam sebesar 7,60%, sementara sektor energi menjadi satu-satunya yang menguat dengan kenaikan 1,54%.

Berita Emiten

Japfa Comfeed Indonesia (JPFA)

Pada tahun 2025, JPFA mencatat pertumbuhan kinerja yang positif. Laba bersih perseroan naik 32,63% secara tahunan, mencapai Rp4,00 triliun dari Rp3,01 triliun pada tahun 2024. Penjualan juga mengalami peningkatan sebesar 8,80% menjadi Rp60,71 triliun dibandingkan dengan Rp55,80 triliun pada tahun sebelumnya.

Kontribusi penjualan terbesar berasal dari segmen peternakan komersial sebesar Rp24,51 triliun, diikuti oleh pakan ternak sebesar Rp15,78 triliun, serta pengolahan hasil peternakan dan produk konsumen sebesar Rp10,64 triliun.

Beban pokok penjualan JPFA tercatat naik menjadi Rp47,52 triliun dari Rp44,58 triliun. Beban penjualan tercatat Rp2,69 triliun, beban umum dan administrasi Rp4,34 triliun, serta beban keuangan Rp804,86 miliar.

Dengan meningkatnya laba, laba per saham JPFA juga mengalami peningkatan menjadi Rp344 dari Rp260 pada tahun 2024. Saham JPFA saat ini berada dalam fase konsolidasi di kisaran Rp2.310–Rp2.500.

Arwana Citramulia (ARNA)

ARNA mengalokasikan dana maksimal Rp100 miliar untuk program pembelian kembali saham (buyback) setelah mendapatkan persetujuan RUPST. Aksi korporasi ini dijadwalkan berlangsung mulai 9 April hingga 9 April 2027 dengan RHB Sekuritas Indonesia sebagai pelaksana transaksi di BEI. Estimasi biaya perantara ditetapkan maksimal 0,2017% per transaksi.

Setelah buyback, total aset ARNA diperkirakan turun dari Rp 2,88 triliun menjadi Rp2,78 triliun dan ekuitas dari Rp 1,93 triliun menjadi Rp 1,83 triliun. Namun, laba per saham diproyeksikan meningkat dari Rp 56,97 menjadi Rp58,35, dengan laba bersih 2025 tercatat Rp 400,47 miliar.

Rekomendasi Saham Hari Ini

Disclaimer: Analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.

Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan investor, sesuai dengan profil risiko dan tujuan keuangan masing-masing. Investasilah secara bijak.

Recommended