Dana Moneter Internasional (IMF) secara resmi memangkas prospek pertumbuhan ekonomi global pada Selasa (14/4/2026) seiring meningkatnya kekhawatiran atas lonjakan harga energi. Penurunan proyeksi ini dipicu oleh eskalasi konflik di wilayah Timur Tengah yang mengganggu jalur pasokan energi dunia.
Lembaga keuangan internasional tersebut menilai dunia kini sedang bergeser ke arah skenario ekonomi yang lebih buruk dengan pertumbuhan yang melambat. Sebagaimana dilansir dari Detik Finance, gangguan pasokan energi di Selat Hormuz menjadi faktor utama yang menghambat stabilitas ekonomi global saat ini.
IMF merilis tiga skenario pertumbuhan ekonomi tahun ini yang seluruhnya bergantung pada durasi dan intensitas perang di Timur Tengah. Ketiga skenario tersebut dikategorikan mulai dari kondisi yang lebih lemah, lebih buruk, hingga kondisi yang sangat parah.
Dalam laporan yang dikutip dari Reuters, pada skenario terburuk, ekonomi dunia terancam berada di ambang resesi. Prediksi ini didasarkan pada perkiraan rata-rata harga minyak yang mencapai US$ 110 per barel pada tahun 2026 dan melonjak hingga US$ 125 pada tahun 2027.
Sementara itu, skenario risiko sedang membayangkan konflik yang bertahan lebih lama sehingga harga minyak tertahan di angka US$ 100 per barel tahun ini. Dalam kondisi ini, pertumbuhan global diprediksi merosot menjadi 2,5% tahun ini dari sebelumnya 3,4% pada tahun 2025.
Kepala Ekonom IMF, Pierre-Olivier Gourinchas, menyatakan bahwa proyeksi yang baru dirilis tersebut berisiko cepat usang karena situasi yang terus berkembang. Menurutnya, gangguan energi yang tidak kunjung usai membuat skenario buruk menjadi sangat mungkin terjadi di masa depan.
"Saya akan mengatakan bahwa kita berada di antara skenario sedang dan skenario buruk. Dan tentu saja, setiap hari yang berlalu dan setiap hari kita mengalami lebih banyak gangguan di bidang energi, kita semakin mendekati skenario buruk," kata Gourinchas, Kepala Ekonom IMF.
Sebenarnya, tanpa gangguan konflik di Timur Tengah, IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global dapat mencapai angka 3,4%. Potensi kenaikan ini didukung oleh ekspansi investasi teknologi, penurunan suku bunga, serta pelonggaran tarif perdagangan di Amerika Serikat dan dukungan fiskal di berbagai negara.
Pada skenario optimis atau prospek terbaik, IMF mengasumsikan konflik Timur Tengah berlangsung singkat sehingga harga minyak kembali normal pada paruh kedua tahun 2026. Dalam kondisi ideal ini, harga minyak diharapkan stabil pada rata-rata US$ 82 per barel.