Periode Januari hingga Februari 2026 menunjukkan peningkatan signifikan pada impor Indonesia secara tahunan. Nilai impor total mencapai US$ 42,09 miliar, merepresentasikan kenaikan sebesar 14,44% dibanding tahun sebelumnya. Salah satu komoditas penyumbang lonjakan tersebut adalah logam mulia dan perhiasan/permata, terutama yang berasal dari Australia, sebagaimana dilansir dari Detik Finance.
Ateng Hartono, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, menjelaskan bahwa impor logam mulia dan perhiasan/permata dari Australia menembus angka US$ 865,74 juta selama dua bulan pertama tahun 2026. Angka ini mencatat pertumbuhan fantastis, mencapai 646% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy).
Menurut Ateng, kenaikan impor perhiasan logam mulia dari Australia sangat tinggi, dengan pertumbuhan 646% secara c-to-c. Komoditas ini menjadi salah satu bagian penting dari impor nonmigas Indonesia dari Australia.
Total impor nonmigas dari Australia tercatat senilai US$ 2,07 miliar. Logam mulia dan perhiasan/permata mendominasi dengan kontribusi sebesar 41,84%. Selain itu, komoditas serealia juga menunjukkan kenaikan impor menjadi US$ 291,18 juta, tumbuh 60,44%. Sementara itu, impor bahan bakar mineral tercatat US$ 168,71 juta, mengalami penurunan 37,80%.
Di samping Australia, Indonesia turut mengimpor logam mulia dan perhiasan/permata dari Singapura. Sepanjang Januari-Februari 2026, nilai impor dari Singapura mencapai US$ 323,43 juta, menunjukkan pertumbuhan 196,50%.
Di sisi lain, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya tercatat sebagai penyumbang utama deflasi pada Maret 2026. Kelompok ini mengalami deflasi sebesar 0,21%, dengan andil deflasi 0,01% terhadap total deflasi. Ateng menambahkan bahwa tingkat deflasi pada kelompok ini adalah yang terendah dalam empat tahun terakhir.
Komoditas emas perhiasan menjadi faktor terdalam yang menyebabkan deflasi dalam kelompok tersebut. Emas perhiasan mengalami deflasi setelah sebelumnya mengalami inflasi selama 30 bulan berturut-turut. Tingkat deflasi untuk emas perhiasan pada Maret 2026 mencapai 1,17%, dengan andil deflasi sebesar 0,03%.