Pemerintah Indonesia berencana menghentikan ekspor timah sebagai upaya memperkuat hilirisasi dan mengoptimalkan pemanfaatan timah bagi kebutuhan industri domestik.
Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, menyatakan bahwa industri solar panel di dalam negeri telah menunjukkan perkembangan dan membutuhkan timah sebagai salah satu komponen penting.
"Ini kan sudah ada beberapa industri solar panel yang ada di dalam negeri, dan juga ini akan memanfaatkan timah juga sebagai salah satu faktor penunjang produksinya. Jadi harapannya ke depan yang untuk Timah itu justru ini bisa dimanfaatkan secara maksimal di industri di dalam negeri," ujar Yuliot di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (27/2/2026).
Selain industri solar panel, timah juga diperlukan untuk pengembangan sektor elektronik dan semikonduktor, menurut Yuliot.
Langkah penghentian ekspor timah juga bertujuan memanfaatkan mineral ikutan yang belum termanfaatkan selama proses ekstraksi.
"Jadi dalam rangka penataan sektor pertambangan, ya kami mengharapkan itu nanti juga bagian yang bisa logam tanah jarang yang ada di situ, ya kemudian kritikal mineral juga ada di situ, bisa dimanfaatkan untuk pengembangan industri di dalam negeri," ujarnya.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya menyatakan rencana pengkajian penghentian ekspor komoditas mentah lainnya, termasuk timah, dengan tujuan mengganti ekspor bahan mentah dengan produk hilirisasi untuk memperkuat ekonomi nasional.
"Tahun lalu kita melarang ekspor bauksit. Dan tahun ke depan, kita akan mengkaji untuk beberapa komoditas lain, termasuk timah," ujar Bahlil dalam keterangan tertulis, Minggu (15/2/2026).
Bahlil mencontohkan keberhasilan pelarangan ekspor bijih nikel pada 2018-2019 yang meningkatkan total ekspor nikel hingga 10 kali lipat pada periode 2023-2024.
"Total ekspor nikel kita tahun 2018-2019 itu hanya US$ 3,3 miliar. Dan kemudian begitu kita melarang ekspor, di 2024 itu total ekspor kita sudah mencapai US$ 34 miliar. 10 kali lipat hanya dalam waktu 5 tahun. Inilah kemudian yang menjadi dorongan pertumbuhan ekonomi yang merata, menciptakan lapangan pekerjaan," jelas Bahlil.
Bahlil mendorong pelaku usaha untuk membangun fasilitas hilirisasi di dalam negeri, daripada mengekspor barang mentah, agar nilai tambah komoditas mineral dapat dinikmati masyarakat.
"Silakan teman-teman membangun investasi hilirisasi di dalam negeri," sambung Bahlil.