Indonesia Impor 17 Ribu Sapi dari Australia Guna Penuhi Stok Nasional

Kapal MV Al Kuwait membawa 17.000 ekor sapi dari Pelabuhan Darwin ke Indonesia pada Kamis (30/4/2026) untuk mengatasi defisit pasokan daging domestik.

Kapal pengangkut ternak MV Al Kuwait berlayar dari Pelabuhan Darwin, Australia, menuju Indonesia dengan membawa lebih dari 17.000 ekor sapi pada Kamis, 30 April 2026. Pengiriman skala besar ini dilakukan untuk memenuhi lonjakan permintaan daging sapi di kota-kota besar Indonesia yang belum mampu dicukupi oleh produksi domestik.

Indonesia tercatat sebagai pasar ekspor ternak hidup terbesar bagi Australia dengan volume pembelian mencapai 583.418 ekor sapi pada tahun 2025. Dilansir dari Medcom, nilai impor tersebut diestimasi mencapai USD700 juta atau sekitar Rp11 triliun dengan asumsi harga USD4,00 per kilogram bobot hidup.

Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Ronny Rachman Noor, menjelaskan bahwa keterbatasan populasi sapi potong dalam negeri menjadi pemicu utama ketergantungan impor. Menurutnya, produktivitas sapi lokal saat ini masih relatif rendah jika dibandingkan dengan jenis Brahman Cross asal Australia.

"Ini terkait dengan produktivitas sapi lokal yang relatif rendah dibandingkan dengan sapi Brahman Cross dari Australia,” kata Ronny Rachman Noor, Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University pada Kamis (30/4/2026). Ia menambahkan bahwa sapi lokal seperti sapi Bali tumbuh lebih lambat akibat keterbatasan pakan dan lahan peternakan rakyat yang masih tradisional.

Data distribusi menunjukkan produksi sapi nasional saat ini masih terkonsentrasi di wilayah Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, dan Jawa Tengah. Sebaliknya, permintaan tertinggi berada di wilayah metropolitan seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan, terutama untuk kebutuhan industri perhotelan, restoran, dan katering.

Selain faktor konsumsi harian, daging sapi memiliki nilai budaya tinggi di Indonesia yang sering memicu defisit pasokan saat momen keagamaan seperti Iduladha. Australia dipilih sebagai pemasok utama karena memiliki infrastruktur logistik terintegrasi di Pelabuhan Darwin, Kimberley, dan Queensland yang mampu menekan biaya pengiriman.

Meskipun memberikan stabilitas pasokan, ketergantungan ini dinilai memiliki risiko tinggi terhadap fluktuasi harga global dan gangguan geopolitik. Sebagai langkah mitigasi, pemerintah disarankan untuk memperkuat riset genetik pembibitan sapi lokal dan melakukan diversifikasi sumber impor dari negara lain seperti Brasil atau India.

Ronny juga menekankan pentingnya pengembangan feedlot yang memanfaatkan pakan lokal seperti jagung dan singkong guna mengurangi biaya operasional. Peningkatan subsidi bagi peternak domestik dan pengaturan kuota impor menjadi langkah strategis yang diperlukan agar harga sapi lokal tidak tertekan oleh masuknya ternak impor.

Recommended