Laporan terbaru JP Morgan Asset Management bertajuk Pandora's Bog: The Global Energy Shock of 2026 yang dirilis pada Sabtu (21/3/2026) menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara paling tangguh dalam menghadapi guncangan energi dunia.
Dilansir dari Detik Finance pada Kamis (23/4/2026), posisi kuat ini didorong oleh tingginya pemanfaatan sumber daya domestik yang memberikan perlindungan signifikan terhadap fluktuasi pasar global.
Ketahanan tersebut dihitung melalui indikator total insulation factor yang menggabungkan produksi gas, batu bara, energi terbarukan, serta nuklir nasional. Indonesia tercatat memiliki skor insulation factor mencapai 77 persen.
Angka tersebut menempatkan Indonesia hanya satu tingkat di bawah Afrika Selatan (79 persen) dan melampaui capaian Tiongkok (76 persen) serta Amerika Serikat (70 persen). Analisis ini mencakup 52 negara yang mewakili 82 persen konsumsi energi di seluruh dunia.
Struktur energi nasional menjadi kunci utama di mana batu bara domestik memenuhi 48 persen konsumsi energi akhir, diikuti gas bumi sebesar 22 persen, dan energi terbarukan menyumbang 7 persen.
"Negara dengan porsi besar produksi energi domestik terutama batu bara dan gas memiliki tingkat eksposur yang lebih rendah terhadap guncangan minyak dan gas global," tulis laporan JP Morgan tersebut.
Lembaga riset internasional ini mengelompokkan Indonesia bersama India, Filipina, Vietnam, dan China sebagai kelompok yang mendapat keuntungan besar dari produksi batu bara lokal di tengah ketidakpastian global.
Selain kemandirian sumber daya, Indonesia juga memiliki ketergantungan yang sangat minim terhadap jalur distribusi energi berisiko tinggi. Impor minyak dan gas melalui Selat Hormuz hanya menyumbang 1 persen dari total konsumsi energi primer nasional.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan negara Asia Timur lainnya seperti Korea Selatan yang bergantung hingga 33 persen, serta Taiwan dan Thailand sebesar 27 persen untuk pasokan dari jalur tersebut.
JP Morgan mengidentifikasi negara maju seperti Italia, Jepang, dan Singapura sebagai wilayah yang paling rentan akibat ketergantungan impor yang tinggi. Upaya transisi melalui kendaraan listrik dan energi surya dinilai menjadi solusi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan tersebut.