Indonesia Hentikan Impor Solar Mulai Januari 2026

Pemerintah Indonesia resmi menghentikan impor solar sejak Januari 2026 berkat pengoperasian kilang RDMP Balikpapan dan optimalisasi produksi dalam negeri.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan Indonesia secara resmi telah menghentikan impor bahan bakar solar mulai Januari 2026. Keputusan ini diambil menyusul beroperasinya kilang terintegrasi Refinery Development Master Plan (RDMP) milik Pertamina di Balikpapan, Kalimantan Timur.

Klaim penghentian impor tersebut didasarkan pada laporan dari Pertamina Patra Niaga selaku subholding hilir PT Pertamina (Persero). Dilansir dari Detik Finance, kapasitas produksi dalam negeri saat ini dinilai telah mencukupi kebutuhan nasional bahkan mengalami surplus sejak proyek pengembangan kilang tersebut berjalan secara penuh.

"Memang sudah tidak impor lagi kan kita. Sudah semua produksi Pertamina, dan iya berlebih, dari adanya waktu itu RDMP Balikpapan yang diresmikan presiden itu sudah berjalan nih," kata Eniya Listiani Dewi, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, di Yogyakarta, Senin (27/4/2026).

Selain optimalisasi kilang, pemerintah tengah mempersiapkan implementasi biodiesel B50 yang dijadwalkan meluncur pada Juli 2026 mendatang. Langkah ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas bahan bakar nabati yang berasal dari minyak sawit atau Fatty Acid Methyl Ester (FAME).

Peningkatan spesifikasi FAME tersebut ditujukan untuk menurunkan kadar sulfur dan menekan emisi gas buang secara signifikan. Eniya menegaskan bahwa pencampuran FAME dengan solar produksi Pertamina akan menghasilkan produk bahan bakar yang sepenuhnya bersumber dari dalam negeri atau 100 persen lokal.

Kebijakan kemandirian energi ini dinilai sangat strategis di tengah kondisi ketidakpastian pasokan global dan lonjakan harga minyak dunia. Situasi geopolitik yang memanas di Timur Tengah menjadi salah satu pendorong pemerintah untuk mempercepat pemanfaatan bahan bakar nabati yang harganya lebih kompetitif dibanding solar fosil.

Saat ini, harga bahan bakar nabati yang diproduksi secara domestik terpantau jauh lebih rendah daripada harga solar di pasar internasional. Pemerintah merespons kondisi tersebut dengan terus meningkatkan komposisi campuran FAME guna memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada fluktuasi harga energi global.

Recommended