Indonesia dan Singapura tengah mempererat kolaborasi di sektor energi. Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), menyatakan bahwa salah satu fokus kerja sama ini adalah rencana ekspor listrik bersih yang dihasilkan dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
Inisiatif ini selaras dengan program pembangunan pembangkit listrik hingga 100 gigawatt (GW). Program ini bertujuan memenuhi kebutuhan listrik dalam negeri sekaligus membuka peluang ekspor energi ke negara tetangga.
Ekspor listrik ini bukannya tanpa tantangan. Harga energi hijau saat ini masih lebih tinggi dibandingkan energi berbasis fosil.
Ekspor listrik bersih dari Indonesia ke Singapura diharapkan menjadi pemicu masuknya investasi industri berteknologi tinggi. Pemerintah berupaya memanfaatkan energi hijau untuk menarik perusahaan global membangun fasilitas produksi dan pusat teknologi di Batam, Bintan, dan Karimun (BBK).
Tujuannya, kawasan BBK dapat berkembang menjadi pusat industri hijau baru di Indonesia.
"Saya sudah mendapat laporan bahwa kawasan industri sudah hampir final. Nanti kita akan bangun di wilayah Kepri. Dan ini saya lagi meng-clear-kan. Kalau itu sudah selesai, maka saya pikir ini salah satu kemajuan dalam persiapan," ujarnya dalam pertemuan dengan Minister for Manpower sekaligus penanggung jawab energi Singapura Tan See Leng di Tokyo, Jepang dikutip dari laman Kementerian ESDM, Minggu (15/3/2026).
Tan See Leng menyambut baik kemajuan teknis terkait kerja sama ini. "Saya rasa sebagian besar diskusi teknikal sudah mengalami kemajuan yang baik," ujar Tan See Leng.
Kedua negara juga membahas pengembangan kawasan industri berkelanjutan di Batam, Bintan, dan Karimun. Pemerintah menyiapkan skema prioritas kebutuhan listrik dalam negeri sebelum ekspor, serta membuka peluang kerja sama teknologi rendah karbon seperti penangkapan dan penyimpanan karbon (Carbon Capture Storage/CCS).
"Yang menyangkut CCS, aturan-aturannya sudah saya persiapkan. Itu kemudian bisa kita lakukan kolaborasi," ujar Bahlil.
Sinergi ini adalah wujud kepemimpinan energi di ASEAN. Dengan dukungan teknis dan investasi dari Singapura serta sumber daya melimpah dari Indonesia, visi menjadi pemain kunci dalam rantai pasok energi hijau semakin dekat. Implementasi nyata melalui pilot project di kawasan BBK diharapkan segera dimulai sebagai bukti konkret dari tiga MoU yang telah ditandatangani sebelumnya.