Indonesia Terancam ‘Strategic Invisibility Trap’ di Tengah Perang Iran

Indonesia berisiko 'tak terlihat' dunia di tengah konflik global seperti Perang Iran 2026, berpotensi menghambat investasi dan diplomasi.

Di tengah ketegangan global yang meningkat akibat Perang Iran 2026, Indonesia menghadapi ancaman serius yang jarang disadari. Bukan sekadar dampak ekonomi seperti kenaikan harga minyak atau tekanan terhadap APBN, melainkan hilangnya posisi strategis negara ini dalam perhatian dunia.

Kondisi tersebut dikenal sebagai strategic invisibility trap, sebuah fenomena yang diungkap oleh Dr. Emaridial Ulza. Beliau adalah peneliti dari Pusat Studi Politik dan Sosial UHAMKA sekaligus Founding Director Global Trust Intelligence (GTI).

Dalam laporan strategis terbarunya, Dr. Emaridial menjelaskan bahwa jebakan tak terlihat ini berarti Indonesia tidak dipersepsikan buruk, tetapi justru absen dalam pandangan global secara keseluruhan. Di era informasi yang bergerak cepat, negara yang tidak mampu membangun narasi sendiri berisiko tidak diperhitungkan dalam konteks investasi, diplomasi, maupun pengambilan keputusan strategis.

Menurut Dr. Emaridial, dari perspektif pemasaran internasional dan ilmu saraf keputusan kolektif, pasar global dan publik internasional tidak hanya merespons data. Mereka lebih dipengaruhi oleh narasi yang sering muncul dan tertanam dalam ingatan. Oleh karena itu, negara yang tidak aktif dalam membangun narasinya sendiri berpotensi kehilangan perhatian, meskipun memiliki kekuatan ekonomi yang besar.

Perbandingan dengan Iran menunjukkan fenomena ini. Iran, meski terlibat dalam konflik besar, tetap hadir di panggung global dan menjadi bagian dari percakapan dunia. Sebaliknya, Indonesia, dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa dan pertumbuhan ekonomi stabil, belum tampil sebagai aktor penting dalam narasi global.

Kondisi ini, seperti dilansir dari Medcom, bukan hanya masalah citra. Terdapat dampak langsung terhadap sektor ekonomi. Ketika reputasi, narasi, dan persepsi terganggu secara bersamaan, konsekuensinya dapat berupa tertundanya investasi asing, peningkatan biaya pinjaman, hingga potensi keluarnya modal dari dalam negeri.

Tekanan Ekonomi dan Geopolitik

Laporan yang disusun Dr. Emaridial juga menyoroti tekanan ekonomi yang dihadapi Indonesia melalui konsep Keynesian Triple Squeeze. Ini adalah kondisi saat tiga pilar utama ekonomi—lapangan kerja, suku bunga, dan likuiditas—mengalami tekanan secara bersamaan. Situasi ini dinilai berbeda dari krisis sebelumnya karena ketiadaan sektor yang dapat berfungsi sebagai penyangga.

Di samping tekanan ekonomi, laporan tersebut mengidentifikasi potensi dampak geopolitik yang lebih luas. Krisis energi global yang timbul dari konflik di Timur Tengah berpotensi mendorong negara-negara ASEAN untuk bernegosiasi dengan China dari posisi yang lebih lemah di Laut China Selatan. Pergeseran ini dapat mempengaruhi keseimbangan keamanan kawasan, termasuk wilayah strategis Indonesia seperti Natuna.

Potensi Keunggulan yang Belum Tersampaikan

Secara ironis, di tengah berbagai tekanan tersebut, Indonesia sebenarnya memiliki sejumlah keunggulan yang diakui secara global. Keunggulan ini termasuk keberhasilan dalam menghimpun pajak ekonomi digital, yang menempatkan Indonesia di tiga besar dunia, serta program Makan Bergizi Gratis sebagai salah satu investasi modal manusia terbesar di kawasan.

Namun, menurut Dr. Emaridial, keunggulan-keunggulan ini belum dikomunikasikan secara efektif di tingkat global. Ia menegaskan bahwa narasi bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan faktor penentu arah ekonomi suatu negara. Sebuah negara yang tidak mampu mendefinisikan dirinya sendiri berisiko tidak dipandang sebagai aktor penting di mata dunia.

Laporan ini dikembangkan dengan kerangka Global Trust Intelligence (GTI), sebuah pendekatan analitik yang menggabungkan pemasaran internasional, neurosains, ketahanan non-militer, dan ekonomi Keynesian. Pendekatan ini memungkinkan analisis keterkaitan antar isu yang sering terlewatkan dalam analisis konvensional.

Di dunia yang semakin kompetitif dalam narasi, Indonesia kini dihadapkan pada pilihan krusial. Apakah akan tetap menjadi penonton dalam percakapan global, atau mulai membangun posisinya sebagai aktor yang diperhitungkan. Karena dalam sistem global saat ini, sesuatu yang tidak terlihat berisiko untuk tidak dianggap ada.

Recommended