Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menjalin kerja sama dengan Uni Eropa untuk mencetak 1.000 insinyur berwawasan lingkungan atau green engineers pada Rabu, 22 April 2026. Kolaborasi strategis ini bertujuan memperkuat riset pengelolaan sampah elektronik dan pengembangan teknologi ramah lingkungan di Indonesia.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menjelaskan bahwa kemitraan ini dirancang untuk melahirkan tenaga ahli dengan standar global. Sebagaimana dilansir dari Medcom, fokus utama para lulusan nantinya adalah menangani persoalan limbah industri serta pemanfaatan kembali teknologi yang sudah tidak terpakai.
Data pemerintah menunjukkan terdapat sekitar 180 juta perangkat elektronik bekas di Indonesia yang memerlukan intervensi teknologi mutakhir untuk didaur ulang. Penanganan yang tepat terhadap tumpukan barang elektronik tersebut dinilai krusial agar tidak merusak ekosistem sekaligus mampu memberikan nilai ekonomi yang tinggi.
"Kolaborasi ini untuk mencetak insinyur berwawasan lingkungan berstandar global," kata Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto dalam acara Forum Kolaborasi Sainstek Indonesia-Uni Eropa.
Brian menambahkan bahwa topik penelitian bersama ini akan mencakup daur ulang limbah industri dan baterai. Guna mencapai target tersebut, Kemdiktisaintek secara aktif menerapkan skema pendanaan riset gabungan (joint research) serta program peningkatan kapasitas bagi para insinyur lokal.
Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam, Denis Chaibi, menyatakan komitmen penuh lembaga tersebut dalam mendukung visi keberlanjutan lingkungan Indonesia. Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi sirkular, khususnya pada sektor elektronik.
Program ini juga memfasilitasi pendidikan tingkat doktoral (S3) dengan model perkuliahan lintas negara yang melibatkan institusi di Uni Eropa, Jepang, hingga Amerika Serikat. Melalui mobilitas akademik ini, para ahli diharapkan mampu menyerap keahlian global untuk diimplementasikan pada industri hijau nasional.