Infobip, platform komunikasi cloud berbasis AI, menandai dua dekade dalam transformasi interaksi bisnis-konsumen. Perusahaan ini memproyeksikan era baru komunikasi global dengan kemunculan Agentic AI.
Dari awalnya berupa pengiriman SMS di Kroasia, kini Infobip memproses lebih dari 700 miliar pesan setiap tahun. CEO Infobip, Silvio Kutić, menekankan pentingnya adopsi pendekatan komunikasi holistik melalui hyper-personalisasi, Agentic AI, serta saluran interaktif seperti RCS dan WhatsApp.
Infobip memprediksi pergeseran dari model komunikasi application-to-person (A2P) ke agent-to-person, hingga interaksi agent-to-agent yang sepenuhnya independen pada 2030.
Di Indonesia, adopsi GenAI (Generative AI) untuk engagement merek meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Laporan Messaging Trends 2025 menunjukkan bahwa 50% adopsi AI di Indonesia didorong oleh GenAI, yang digunakan untuk personalisasi pesan. Infobip memperkirakan transisi menuju Agentic AI dalam waktu dekat.
Kukuh Prayogi, Enterprise Business Director Infobip Indonesia, menyatakan bahwa konsumen saat ini menginginkan solusi end-to-end, seperti pencarian produk yang tepat atau penyelesaian masalah layanan secara instan.
Peran Agentic AI
Agentic AI, berbeda dengan GenAI, bertindak secara independen untuk menyelesaikan masalah pelanggan. Teknologi ini memungkinkan merek mempersonalisasi tindakan dan hasil secara real-time.
Penerapan Agentic AI memberikan solusi untuk tantangan spesifik di Indonesia. Di sektor telekomunikasi, AI ini mendukung pengambilan keputusan independen dalam pengelolaan jaringan kompleks dan operasional 5G. Dalam sektor pembiayaan, membantu institusi keuangan memperluas akses kredit bagi UMKM dengan proses persetujuan pinjaman yang lebih cepat dan risiko yang lebih terkontrol.
Menjelang tahun 2030, Infobip memproyeksikan kehadiran asisten AI personal di smartphone yang mampu menangani tugas-tugas kompleks secara independen, seperti bernegosiasi otomatis dengan AI perusahaan travel untuk memesan paket liburan.
Kesiapan Bisnis
Perusahaan harus segera menggabungkan informasi pelanggan dalam satu sistem untuk meraih kesuksesan. Saat ini, tingkat kesiapan bisnis masih rendah, dengan hanya sekitar 5% proyek agen AI yang berhasil masuk tahap produksi, terutama karena data yang belum terstruktur.
Kutić menegaskan pentingnya struktur organisasi yang memfasilitasi data sharing. "Brand yang tidak siap menghadapi masa depan ini berisiko kehilangan daya saing mereka," kata Kutić.