Tiga insinyur asal Indonesia berhasil meraih prestasi membanggakan di ajang OpenAI Codex Hackathon yang diselenggarakan di Singapura pada akhir Februari 2026. Mereka menciptakan sistem berbasis kecerdasan buatan (AI) bernama GambitHunter, yang dirancang untuk menelusuri dan mengidentifikasi jaringan judi online (judol).
GambitHunter dirancang untuk secara otomatis menjelajahi situs judi online dan mengumpulkan bukti-bukti penting, seperti nomor rekening bank dan nomor telepon yang digunakan untuk menerima deposit.
Inovasi ini menarik perhatian juri karena tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga berfokus pada masalah sosial yang marak di Indonesia, yaitu perjudian online yang merugikan masyarakat hingga triliunan rupiah setiap tahun.
Tim pengembang GambitHunter terdiri dari Steven Sukma Limanus, Ilham Firdausi Putra, dan Reynaldo Wijaya Hendry. Ketiganya adalah insinyur Indonesia yang saat ini bekerja di berbagai perusahaan teknologi di Singapura.
Ilham Firdausi Putra mengaku terkejut saat diumumkan sebagai juara kedua. "Kami sangat terkejut ketika diumumkan sebagai juara dua. Awalnya kami merasa ide ini mungkin tidak cukup kompleks secara teknis untuk memenangkan kompetisi," ujar Ilham.
Inspirasi dari Dampak Judi Online
Ide pembuatan GambitHunter muncul dari keresahan mereka terhadap dampak judi online yang semakin meluas di Indonesia. Steven mengaku kesadaran tersebut muncul setelah membaca berbagai laporan mengenai kerugian ekonomi akibat perjudian digital. "Kami mulai tersadar bahwa judi online merupakan problem yang sangat besar ketika melihat berita bahwa dampaknya terhadap ekonomi Indonesia cukup signifikan," kata Steven.
Reynaldo juga mengaku sering mendengar cerita langsung dari orang-orang di sekitarnya tentang dampak negatif judi online. "Saya sering mendengar kabar dari teman tentang masalah judi online. Bahkan ada yang bercerita sering diminta pinjaman uang oleh keluarganya karena terjerat utang akibat kecanduan judi online," ujarnya.
Bagi ketiga insinyur tersebut, GambitHunter bukan hanya sekadar proyek teknologi, tetapi juga sebagai upaya untuk memanfaatkan AI dalam membantu mengatasi masalah sosial yang nyata.
Ilham menjelaskan bahwa perkembangan AI saat ini membuka peluang besar bagi para developer untuk membangun solusi yang sebelumnya sulit diwujudkan. "Kami melihat ada peluang untuk membantu mengurangi permasalahan judi online menggunakan teknologi AI yang berkembang sangat pesat akhir-akhir ini," katanya.
Ia menambahkan bahwa kemajuan teknologi seperti AI coding agent dan OpenAI Codex membuat proses pengembangan perangkat lunak menjadi jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya.
Dengan kemampuan AI agent yang dapat menjelajah situs dan mengumpulkan bukti secara otomatis, sistem seperti GambitHunter berpotensi membantu investigasi dalam skala besar.
Pendekatan serupa juga diperkirakan dapat digunakan untuk mendeteksi berbagai aktivitas ilegal di internet, mulai dari penipuan digital hingga kejahatan siber lainnya.
Asal Usul Nama GambitHunter
Nama GambitHunter dipilih dengan pertimbangan khusus. Kata "gambit" berasal dari istilah dalam permainan catur yang berarti langkah strategis yang berisiko.
Menurut Ilham, istilah tersebut juga memiliki kemiripan bunyi dengan kata "gambling". "Memberantas judi online memang penuh risiko dan tantangan. Tapi ini langkah yang harus dilakukan demi kemaslahatan bersama," ujarnya.
Sementara kata "hunter" menggambarkan fungsi sistem yang bertugas memburu jejak digital operator judi online.
Dalam hackathon tersebut, tim Indonesia memanfaatkan berbagai model AI dari OpenAI, termasuk GPT-5.2 dan Codex, untuk membangun sistem yang mampu bekerja secara otomatis.
Steven mengatakan bahwa teknologi AI dapat membantu mempercepat proses identifikasi jaringan judol yang selama ini sulit dilacak. "Teknologi ini menunjukkan bagaimana AI bisa digunakan untuk membantu menyelesaikan masalah sosial yang nyata, bukan sekadar eksperimen teknologi," katanya.
Hackathon Singkat yang Penuh Tekanan
Seluruh sistem GambitHunter dikembangkan dalam waktu yang sangat singkat, hanya sekitar tujuh jam. Dalam waktu terbatas itu, tim harus merancang konsep, menulis kode, melakukan pengujian, hingga menyiapkan demo untuk presentasi kepada juri.
Momen paling menegangkan terjadi menjelang penutupan kompetisi. "Sekitar 20 menit sebelum deadline, kami belum punya video demo. Saya langsung lari mencari ruangan sepi untuk merekam video demonstrasi," kata Ilham.
Video tersebut akhirnya berhasil direkam dan diunggah hanya tiga menit sebelum batas waktu pengumpulan. Demo tersebut menampilkan bagaimana GambitHunter dapat mengekstraksi data dari situs judi online nyata, bukan sekadar simulasi.
Ketiga insinyur tersebut menilai GambitHunter berpotensi membantu lembaga pemerintah atau penegak hukum dalam memerangi perjudian online.
Namun mereka menekankan bahwa sistem seperti ini sebaiknya dioperasikan oleh institusi yang memiliki kewenangan hukum. "Teknologi ini bisa mempercepat proses investigasi, tetapi implementasi terbaiknya tentu berada di tangan lembaga resmi," kata Steven.
Tim juga menyatakan terbuka untuk berbagi pengetahuan atau melakukan demonstrasi sistem kepada pihak yang tertarik mengembangkan solusi serupa.