Pasar kripto sedang menikmati “kado” manis di akhir pekan ini. Sentimen positif meledak setelah rilis data ekonomi Amerika Serikat memberikan angin segar yang sudah lama dinantikan para pelaku pasar. Bitcoin, sebagai aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar, langsung tancap gas meninggalkan zona konsolidasi yang sempat membosankan dalam beberapa hari terakhir.
Lonjakan ini bukan tanpa alasan kuat. Investor tampaknya merespons positif rilis data inflasi Negeri Paman Sam yang menunjukkan tanda-tanda pendinginan. Kondisi ini memicu spekulasi baru mengenai langkah kebijakan moneter bank sentral AS ke depan, yang secara langsung mengubah peta risiko di pasar aset digital secara global.
Bagi Anda yang memantau layar perdagangan sejak pagi, pergerakan harga Bitcoin hari ini 14 Februari 2026 menunjukkan performa yang cukup impresif. Angka hijau yang mendominasi papan bursa seolah menegaskan bahwa selera risiko (risk appetite) investor kembali pulih, meski kewaspadaan terhadap volatilitas jangka pendek tetap harus dikedepankan.
Data Terbaru: Bitcoin dan Altcoin Kompak Menghijau
Berdasarkan pantauan data real-time, gelombang akumulasi terjadi cukup masif. Mengutip laporan yang dirilis oleh investor.id 14/2/26, kapitalisasi pasar kripto global tercatat melesat 3,43% menuju angka US$ 2,36 triliun. Angka ini mencerminkan masuknya likuiditas baru ke dalam ekosistem aset digital dalam waktu yang relatif singkat.
Harga Bitcoin (BTC) sendiri terpantau melejit 3,63% dan kini bertengger di level US$ 68.878 per koin. Jika dikonversi ke dalam mata uang lokal dengan asumsi kurs Rp 16.832, maka satu keping Bitcoin saat ini setara dengan kurang lebih Rp 1,15 miliar. Kenaikan ini diikuti oleh jajaran aset kripto papan atas lainnya yang tergabung dalam Indeks CoinDesk 20:
-
Ethereum (ETH): Melonjak signifikan 5,48% ke level US$ 2.050.
-
Solana (SOL): Menjadi salah satu top performer dengan kenaikan 7,61% ke US$ 82,9.
-
XRP: Terkerek 3,67% ke posisi US$ 1,41.
-
Binance Coin (BNB): Stabil di zona hijau dengan kenaikan 2,03% ke US$ 620.
-
Dogecoin (DOGE): Ikut terdongkrak 4,09% ke harga US$ 0,09.
Melandainya Inflasi AS: Katalis Utama di Balik Reli
Pemicu utama pergerakan hari ini adalah laporan dari Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS). Dalam rilis terbarunya, inflasi inti (core CPI) tercatat berada di level 2,5%, angka yang sebenarnya sudah diprediksi oleh para ekonom. Namun, kejutan datang dari inflasi umum yang mendarat di angka 2,4%, atau 0,1 poin persentase lebih rendah dari proyeksi pasar.
Ini adalah pencapaian krusial karena menandai level inflasi inti terendah sejak Maret 2021. Melambatnya laju kenaikan harga di Amerika Serikat memberikan ruang bernapas bagi aset-aset berisiko. Analisis dari The Kobeissi Letter menyebutkan bahwa tren inflasi yang melambat ini secara teori membuka pintu bagi pelonggaran kebijakan moneter oleh The Fed.
Sikap The Fed dan Ekspektasi Suku Bunga
Meski data inflasi menggembirakan, pasar tidak boleh terlalu jemawa. Berdasarkan data dari CME Group FedWatch Tool, peluang untuk pemangkasan suku bunga sebesar 0,25% pada pertemuan The Fed bulan Maret mendatang masih tergolong rendah, yakni di bawah 10%.
Artinya, bank sentral AS mungkin masih akan mempertahankan sikap “wait and see” sebelum benar-benar memangkas suku bunga acuan. Hal ini menjelaskan mengapa meskipun Bitcoin naik tajam, indeks dolar AS (DXY) masih mencoba untuk pulih setelah sempat tertekan ke level 96,8.
Mengapa Kenaikan Ini Penting?
Beberapa pakar industri memberikan pandangan mendalam mengenai dinamika pasar saat ini. Head of Research Bitwise Eropa, Andre Dragosch, menilai bahwa penurunan CPI ini sebenarnya bukan hal yang mengejutkan jika kita melihat indikator alternatif seperti Truflation. Menurutnya, tren penurunan ini sudah terbaca oleh data on-chain dan indikator ekonomi independen lainnya.
Tantangan di Level Resisten US$ 68.000
Secara teknikal, pergerakan harga Bitcoin hari ini 14 Februari 2026 sedang menguji area yang sangat krusial. Trader ternama Daan Crypto Trades mengingatkan bahwa Bitcoin saat ini masih berada dalam pola konsolidasi besar.
Area antara US$ 68.000 hingga US$ 69.000 bukan sekadar angka acak. Level ini merupakan:
-
Bekas Rekor Tertinggi (ATH) 2021: Area psikologis yang menjadi tembok besar bagi para bull.
-
Indikator EMA 200 Minggu: Titik temu teknikal yang sering menjadi penentu tren jangka panjang.
Proyeksi “Higher Low”
Analis kripto Michaël van de Poppe memiliki pandangan yang cenderung optimis namun tetap konservatif. Ia memprediksi Bitcoin berpotensi membentuk pola higher low. Dalam dunia analisis teknikal, pola ini merupakan sinyal bahwa setiap koreksi yang terjadi akan diikuti oleh lantai harga yang lebih tinggi dari sebelumnya, memperkuat struktur tren naik.
Namun, Van de Poppe memberikan catatan penting: “Pergerakan pasar saat ini masih rapuh. Semua sangat bergantung pada sentimen makroekonomi global dan arah kebijakan suku bunga.”
Korelasi dengan Emas dan Pasar Saham
Ada fenomena menarik yang terjadi bersamaan dengan reli Bitcoin. Emas, yang sering dianggap sebagai aset aman (safe haven), juga menunjukkan taji dengan menembus level US$ 5.000 per ons troi. Hal ini menunjukkan bahwa investor sedang melakukan diversifikasi masif untuk melindungi nilai kekayaan mereka dari ketidakpastian ekonomi.
Sebaliknya, pasar saham AS justru menunjukkan pergerakan yang cenderung melemah tipis. Anomali ini memperlihatkan bahwa Bitcoin mulai memiliki narasi tersendiri yang tidak selalu mengekor pada indeks saham tradisional, terutama saat isu inflasi menjadi penggerak utama pasar.