Bank Indonesia (BI) mengintensifkan langkah intervensi pasar setelah nilai tukar rupiah melemah hingga menembus level Rp 17.400 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (5/5/2026). Pelemahan ini terjadi di tengah eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang menekan mata uang berbagai negara berkembang.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, terpantau menghadiri pertemuan di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, untuk membahas pembangunan Indonesia Financial Center (IFC) Bali. Pertemuan yang berlangsung selama 1,5 jam tersebut turut dihadiri oleh Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Dilansir dari Detik Finance, rupiah mencatatkan depresiasi sebesar 3,65 persen sejak awal konflik di Timur Tengah berkecamuk. Meski melemah, Bank Indonesia menilai fluktuasi mata uang Garuda masih berada dalam rentang yang sejalan dengan tren mata uang regional lainnya.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin G. Hutapea, memerinci perbandingan pelemahan mata uang negara lain dalam periode yang sama. Peso Filipina tercatat anjlok 6,58 persen, Baht Thailand melemah 5,04 persen, dan Rupee India turun 4,32 persen.
"Pergerakan Rupiah sejak awal konflik di Timur Tengah hingga saat ini masih sejalan dengan mayoritas mata uang emerging market lainnya," ujar Erwin G. Hutapea dalam keterangan tertulisnya pada Selasa (5/5/2026).
Menanggapi tekanan global tersebut, BI berkomitmen mengoptimalkan intervensi di pasar valuta asing. Strategi yang dijalankan mencakup transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.
Selain itu, otoritas moneter juga melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder secara konsisten. Langkah ini bertujuan menjaga stabilitas nilai tukar agar tetap sesuai dengan fundamental ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian pasar global.