Investor Asing Diam-diam Borong Saat Harga Turun, Sinyal Rebound Saham BMRI?

Pasar modal Indonesia sedang menyaksikan drama menarik pada penutupan sesi I perdagangan hari ini. Di saat harga saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk sedang mengalami koreksi teknis, investor asing justru terlihat bergerak berlawanan arah dengan melakukan aksi borong besar-besaran. Fenomena ini menciptakan tanda tanya besar bagi pelaku pasar: apakah ini waktu yang tepat untuk masuk atau sekadar jebakan pasar?

Pergerakan Saham BMRI pada Jumat (6/2/2026) memang terbilang unik. Meskipun harganya terpantau melemah sekitar 1,19% dan terparkir di level Rp 4.990 per lembar, antusiasme modal asing tidak surut sedikit pun. Justru, pelemahan harga ini seolah menjadi karpet merah bagi para “pemain besar” untuk mendapatkan posisi di harga yang lebih kompetitif sebelum perdagangan pekan ini ditutup.

Anomali Pasar: Harga Turun, Akumulasi Asing Justru Melejit

Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), volume perdagangan Bank Mandiri melesat cukup signifikan. Tercatat ada sekitar 135 juta lembar saham yang berpindah tangan dengan frekuensi transaksi mencapai lebih dari 24 ribu kali. Nilai transaksinya pun tidak main-main, menyentuh angka Rp 673,3 miliar hanya dalam waktu setengah hari perdagangan.

Mengapa asing begitu “rakus” menyerap saham ini saat harganya turun? Jawabannya ada pada strategi buy on weakness. Data Stockbit menunjukkan bahwa BMRI menempati posisi kedua sebagai saham dengan volume net buy asing terbanyak di seluruh pasar. Asing mencatatkan beli bersih sebanyak 54,95 juta lembar saham. Ini bukan angka kecil untuk transaksi sesi pertama, terutama di tengah volatilitas pasar global yang sedang tidak menentu.

Melanjutkan Tren Akumulasi Sejak Kamis Kemarin

Aksi borong ini sebenarnya bukan cerita baru yang muncul tiba-tiba hari ini. Ini adalah kelanjutan dari momentum yang sudah terbangun sejak perdagangan Kamis (5/2/2026). Kemarin, saham bank berlogo pita emas ini juga sudah mencatatkan net buy asing yang sangat tebal, yakni mencapai Rp 390,18 miliar.

Konsistensi investor mancanegara dalam menyuntikkan modal ke Mandiri menunjukkan kepercayaan diri yang tinggi terhadap fundamental bank pelat merah ini. Jika ditarik benang merahnya, penurunan harga hari ini lebih bersifat teknikal atau aksi ambil untung (profit taking) oleh investor domestik, sementara asing memanfaatkannya untuk memperkuat portofolio jangka panjang mereka.

Fundamental Solid Jadi Magnet Utama Saham BMRI

Seorang analis senior dari sekuritas ternama sering menekankan bahwa pergerakan harga saham perbankan big cap seperti Mandiri akan selalu kembali ke performa kinerja keuangan. Dengan efisiensi yang terus meningkat dan penyaluran kredit yang tetap terjaga, wajar jika asing tidak mau kehilangan momentum saat harga terkoreksi di bawah level psikologis Rp 5.000.

“Aksi beli bersih yang dilakukan asing di tengah koreksi harga biasanya menandakan adanya ekspektasi positif terhadap laporan keuangan mendatang atau prospek pembagian dividen. BMRI tetap menjadi primadona karena likuiditasnya yang sangat cair dan fundamental yang tangguh,” ujar salah satu pelaku pasar di kawasan Sudirman.

Proyeksi Pergerakan Hingga Penutupan Sesi II

Melihat aliran dana masuk yang begitu deras, ada peluang besar terjadi perlawanan arah (rebound) pada sesi II nanti atau setidaknya pada pembukaan perdagangan Senin pekan depan. Pola “disedot asing” ini biasanya menjadi indikator kuat bahwa harga saat ini dianggap sudah cukup murah oleh pasar internasional.

Bagi pelaku pasar lokal, fenomena ini bisa menjadi pengingat untuk tidak panik saat melihat warna merah di portofolio. Memperhatikan pergerakan Foreign Flow atau aliran dana asing seringkali memberikan petunjuk lebih akurat mengenai arah harga saham ke depan dibandingkan sekadar melihat grafik harian yang berfluktuasi.

Strategi Bagi Investor Ritel

Di tengah gempuran aksi beli asing ini, investor ritel disarankan untuk tetap tenang dan melakukan observasi mendalam. Jangan terjebak pada ketakutan sesaat karena penurunan 1,19% adalah hal lumrah dalam dinamika bursa. Sebaliknya, melihat bagaimana institusi besar bereaksi terhadap penurunan harga bisa menjadi pelajaran berharga dalam menyusun strategi investasi.

Saham BMRI tetap akan menjadi barometer pergerakan IHSG. Selama asing masih terus menyuntikkan dana ke sektor perbankan, fondasi pasar modal kita sebenarnya masih dalam kondisi yang cukup aman. Pantau terus level support dan resistance untuk memastikan keputusan investasi tetap rasional dan terukur.

Recommended