Berbagai wilayah di Indonesia, termasuk Jakarta dan sekitarnya, menghadapi fenomena suhu panas ekstrem di siang hari yang dipicu oleh proses penyerapan radiasi medan elektromagnetik oleh atmosfer selama beberapa pekan terakhir hingga Senin (27/4/2026).
Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, menjelaskan bahwa atmosfer bertindak sebagai medium penerima radiasi gelombang pendek dari matahari dan radiasi gelombang panjang dari bumi. Dilansir dari Medcom, kondisi ini secara langsung memengaruhi fluktuasi suhu udara di lapisan troposfer bagian bawah.
Peningkatan suhu udara tersebut sangat dipengaruhi oleh kerapatan partikel penyerap serta intensitas radiasi yang diterima. Sonni menyebutkan bahwa semakin tinggi konsentrasi partikel pengabsorpsi, maka energi yang terserap akan semakin besar sehingga suhu udara melonjak.
"Semakin tinggi konsentrasi partikel pengabsorpsi, semakin besar energi yang terserap, sehingga suhu udara pun meningkat," ujar Sonni Setiawan, Dosen Geofisika dan Meteorologi IPB University sebagaimana dikutip dari Media Indonesia.
Faktor pertama yang memperparah situasi ini adalah meningkatnya konsentrasi gas penyerap radiasi gelombang panjang, seperti karbon dioksida (CO2), uap air, serta polutan aerosol. Akumulasi zat-zat tersebut menciptakan efek rumah kaca yang menyebabkan panas terperangkap di lapisan atmosfer bawah.
Faktor kedua berkaitan dengan masifnya alih fungsi lahan dari kawasan hijau menjadi area terbangun atau pemukiman. Permukaan buatan seperti beton dan aspal memiliki kapasitas panas yang lebih rendah dibandingkan vegetasi, sehingga lebih cepat menyerap sekaligus memancarkan kembali panas ke udara.
Perubahan karakteristik permukaan bumi ini memperkuat pemanasan udara di lapisan bawah secara signifikan. Hingga saat ini, fenomena suhu panas ekstrem tersebut masih terus dipantau seiring dengan perubahan tutupan lahan yang terus terjadi di wilayah perkotaan.