Setelah operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel menekan kemampuan konvensionalnya, Iran disebut mengandalkan serangan siber sebagai alat balasan utama. Analisis perusahaan keamanan siber Anomali mengungkapkan hal ini.
Iran memobilisasi kelompok APT42 dan APT33 yang memiliki kaitan dengan Islamic Revolutionary Guard Corps dan Kementerian Intelijen Iran. APT33 juga dikenal dengan nama MuddyWater.
SentinelOne memperkirakan kelompok yang berafiliasi dengan Iran akan menargetkan jaringan pertahanan, pemerintahan, dan intelijen Israel maupun Amerika Serikat dalam beberapa hari ke depan.
Wiper malware, perangkat lunak berbahaya yang dirancang untuk menghapus data secara permanen dan melumpuhkan sistem komputer, adalah salah satu taktik yang dinilai paling mungkin digunakan. Selain itu, serangan distributed denial-of-service atau DDoS juga diperkirakan kembali digunakan untuk membanjiri layanan daring hingga tidak bisa diakses.
Aktor yang dikaitkan dengan Iran menargetkan infrastruktur penting dan sektor keuangan, selain domain pemerintahan dalam beberapa tahun terakhir. Metode ini bukanlah hal baru bagi Iran.
Firma keamanan Sophos menilai bahwa meski sejumlah kelompok pro-Iran kerap membesar-besarkan klaimnya, mereka tetap merupakan aktor yang mampu dan berbahaya, demikian dikutip detikINET dari Euronews, Rabu (4/3/2026).
Islamic Cyber Resistance Axis mengklaim melakukan sejumlah operasi terhadap target Israel, termasuk perusahaan pertahanan Rafael dan layanan deteksi drone VigilAir. Kelompok tersebut juga dilaporkan berupaya merekrut pakar siber untuk "pertempuran epik" melawan Israel dan Amerika Serikat.
Gonjeshke Darande atau Predatory Sparrow, kelompok anti-Iran, sebelumnya mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap Bank Sepah, pabrik baja Iran pada 2022, serta gangguan sistem SPBU pada 2023.
Kehadiran aktor non-negara ini memperumit situasi. Kelompok semacam ini sulit dikendalikan melalui jalur diplomatik dan sering kali beroperasi dengan agenda ideologis, tidak seperti militer resmi.
Firma keamanan Sophos mencatat bahwa kelompok-kelompok ini tetap memiliki kemampuan teknis yang nyata, meski beberapa klaim dibesar-besarkan.