Iran Izinkan Kapal Tak Musuh Lewati Selat Hormuz

Iran menyatakan kapal yang tidak memusuhi mereka dapat melewati Selat Hormuz, di tengah penurunan lalu lintas yang memicu krisis energi.

Di tengah penurunan lalu lintas pelayaran yang memicu kekhawatiran akan krisis energi global, Iran menyatakan bahwa kapal-kapal yang tidak menunjukkan sikap permusuhan diizinkan melintasi Selat Hormuz.

Misi Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyampaikan pada hari Selasa bahwa kapal-kapal dapat menggunakan jalur aman di perairan tersebut asalkan tidak terlibat dalam tindakan agresi terhadap Iran dan mematuhi aturan keselamatan serta keamanan yang berlaku.

Menurut laporan Aljazeera pada Kamis (26/3/2026), izin melintas juga diberikan jika ada koordinasi dengan otoritas Iran. Pernyataan serupa sebelumnya telah disampaikan Iran kepada International Maritime Organization (IMO), badan PBB yang fokus pada keselamatan pelayaran internasional.

Meski demikian, Iran belum menjelaskan secara detail aturan yang harus diikuti oleh kapal-kapal agar bisa melintas dengan aman di selat yang menjadi jalur bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia tersebut.

Pernyataan Iran ini muncul setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa negosiasi sedang berlangsung untuk mengakhiri perang AS-Israel melawan Iran. Teheran sendiri membantah adanya pembicaraan tersebut.

Volume lalu lintas di Selat Hormuz jauh di bawah kondisi normal sebelum perang yang dimulai pada 28 Februari, meskipun masih ada beberapa kapal yang melintas setiap hari. Windward, sebuah perusahaan intelijen maritim, mencatat hanya lima kapal yang melintas pada hari Senin, angka ini turun drastis dari rata-rata sekitar 120 kapal per hari sebelum konflik.

Pada awal konflik, Iran sempat memperingatkan bahwa setiap kapal yang mencoba melintas akan menghadapi serangan. Namun, dalam beberapa pekan terakhir, pejabat di Teheran menegaskan bahwa jalur tersebut tetap terbuka, kecuali bagi pihak yang dianggap sebagai musuh.

Penurunan aktivitas pelayaran di selat ini telah menyebabkan lonjakan harga energi global. Beberapa analis memperkirakan harga minyak bisa melonjak hingga US$ 150 atau bahkan US$ 200 per barel jika jalur tersebut tetap tertutup secara efektif.

Harga minyak Brent sempat bertahan di atas US$ 100 per barel sepanjang Maret, tetapi kemudian turun lebih dari 9% pada hari Rabu setelah laporan menyebutkan bahwa pemerintahan Trump mengirimkan proposal 15 poin kepada Iran untuk mengakhiri perang.

Recommended