Iran Klaim Lumpuhkan Radar AS di Qatar Senilai Rp 17 Triliun

Iran mengklaim berhasil melumpuhkan radar peringatan dini AS senilai Rp 17 triliun di Qatar, yang merupakan bagian dari serangan balasan.

Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat setelah Teheran mengumumkan keberhasilan melumpuhkan radar peringatan dini milik AS di Qatar. Radar yang berlokasi di Pangkalan Udara Al Udeid tersebut ditaksir bernilai USD 1,1 miliar atau setara Rp 17 triliun.

Serangan ini merupakan bagian dari rangkaian balasan Iran terhadap pangkalan militer AS di kawasan Teluk, menyusul operasi militer yang dilancarkan Washington dan sekutunya terhadap Iran. Infrastruktur sensor dan komunikasi militer AS menjadi target utama.

Menurut New York Times, setidaknya tujuh pangkalan militer AS di kawasan Teluk Persia mengalami kerusakan pada infrastruktur komunikasi dan radar sejak akhir Februari hingga awal Maret 2026. Serangan ini terjadi setelah operasi besar-besaran AS dan Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei.

Pemerintah Qatar mengakui bahwa dua rudal balistik Iran berhasil menembus pertahanan dan menghantam area pangkalan Al Udeid, menyebabkan delapan orang terluka.

Serangan utama Iran menyasar dua aset penting AS. Pertama, radar AN/FPS-132 Block 5 milik US Space Force di Pangkalan Udara Al Udeid, Qatar. Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menghancurkan radar tersebut dengan rudal balistik presisi.

Kedua, drone Shahed menghantam radome pelindung antena dan dua terminal SATCOM AN/GSC-52B di Markas Fifth Fleet AS di Manama, Bahrain. Video ledakan menunjukkan struktur putih besar roboh, dan citra satelit pasca-serangan memperlihatkan area hangus luas.

Kerusakan serupa juga dilaporkan di pangkalan-pangkalan AS lainnya di Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi, termasuk potensi rusaknya radar THAAD. Analis militer memperkirakan total kerugian AS mencapai hampir USD 2 miliar atau sekitar Rp 31 triliun dalam empat hingga lima hari pertama konflik. Douglas Macgregor menyebut AS kini "operating blind" atau beroperasi dalam keadaan buta di kawasan Teluk.

Drone Murah Melumpuhkan Aset Mahal

Radar AN/FPS-132 Block 5 atau Upgraded Early Warning Radar (UEWR) adalah radar phased-array AESA raksasa yang mampu mendeteksi objek hingga jarak 5.000 kilometer dan melacak ribuan target, termasuk rudal balistik antar-benua dan hipersonik. Harga satu unit mencapai USD 1,1 miliar atau Rp17 triliun, dan jumlahnya sangat terbatas.

Radar ini merupakan tulang punggung pertahanan rudal AS di Teluk. Jika hancur, sistem Patriot dan THAAD di seluruh kawasan akan kehilangan peringatan dini jarak jauh.

Iran menggunakan drone Shahed one-way attack yang harganya hanya USD 20.000 hingga 50.000 (Rp300 hingga 800 juta) per unit. Taktik ini mirip dengan yang dipakai Rusia di Ukraina: swarm drone murah untuk menembus sistem pertahanan mahal. Iran sengaja melumpuhkan radar dan komunikasi terlebih dahulu sebelum melancarkan gelombang rudal balistik besar-besaran.

Bukti kuat terlihat dari citra satelit Planet Labs dan analisis visual independen. Foto sebelum dan sesudah serangan menunjukkan tanah gosong, puing-puing, serta bekas api di sekitar radar Qatar. Di Bahrain, radome putih roboh dan dua terminal SATCOM hancur. Verifikasi dilakukan oleh New York Times Visual Investigations, Institute for the Study of War (ISW), Reuters, dan media lain.

Dampaknya meluas, gangguan komunikasi militer dapat memengaruhi infrastruktur sipil, termasuk GPS, satelit komersial, hingga layanan cloud computing. Ribuan personel AS dan sekutu di Qatar serta Bahrain kini beroperasi dengan sensor terbatas terhadap ancaman rudal Iran. Analis menyebut taktik ini sebagai cetak biru perang masa depan, di mana negara dengan anggaran terbatas mampu melumpuhkan aset bernilai tinggi lawan dengan biaya rendah.

Recommended