Iran Larang Tanker Minyak Lewati Selat Hormuz, AS Beri Peringatan

Garda Revolusi Iran melarang kapal tanker minyak melintas di Selat Hormuz jika AS dan Israel menyerang Teheran, memicu peringatan dari Trump.

Garda Revolusi Iran melarang keras semua kapal tanker minyak melintasi Selat Hormuz. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap kemungkinan serangan dari Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Teheran. Akibatnya, pasokan minyak dari Timur Tengah terancam terhenti.

Presiden AS, Donald Trump, dengan cepat mengecam larangan tersebut. Ia bahkan mengancam serangan balasan yang lebih besar jika Iran bersikeras memblokade ekspor minyak di wilayah tersebut.

Ancaman ini berpotensi memicu kenaikan harga minyak, yang sebelumnya sempat turun setelah Trump mengklaim bahwa perang antara AS-Israel dan Iran akan segera berakhir, dengan syarat Iran patuh pada tuntutan AS.

Trump mengklaim bahwa AS telah memberikan kerusakan signifikan pada militer Iran sejak perang dimulai pada Sabtu (28/2). Serangan tersebut, menurut pejabat AS, bertujuan untuk menghancurkan kemampuan rudal dan program nuklir Iran.

"Kita akan menyerang mereka begitu keras sehingga tidak mungkin bagi mereka atau siapa pun yang membantu mereka untuk memulihkan wilayah itu," kata Trump dikutip dari Reuters, Selasa (10/3/2026).

Sebagai informasi, Iran telah menutup Selat Hormuz sejak serangan AS-Israel beberapa waktu lalu. Akibatnya, kapal tanker tidak dapat berlayar lebih dari seminggu, memaksa produsen minyak menghentikan produksi karena penuhnya fasilitas penyimpanan.

Pengumuman pengangkatan Mojtaba Khamenei sebagai pengganti Ali Khamenei juga turut memicu gejolak di pasar minyak dan penurunan tajam di pasar saham. Di tengah situasi ini, Trump mengisyaratkan bahwa perang dengan Iran akan segera berakhir.

Selain itu, Trump dikabarkan telah berdiskusi dengan Presiden Rusia Vladimir Putin mengenai pencabutan sanksi minyak terhadap beberapa negara, dengan tujuan meringankan kekurangan pasokan.

Beberapa sumber mengartikan hal ini sebagai potensi pelonggaran sanksi terhadap minyak Rusia, atau kemungkinan pelepasan minyak dari cadangan strategis AS, atau bahkan pembatasan ekspor AS.

Harga minyak mentah Brent berjangka mengalami penurunan lebih dari 10% setelah kabar tersebut beredar. Pasar saham global juga menunjukkan tanda-tanda pemulihan.

Recommended