Tren kenaikan harga emas global terus berlanjut, menjadikannya salah satu faktor utama pendorong inflasi pada Februari 2026. Inflasi tercatat sebesar 0,68% secara bulanan (mtm) dan 4,76% secara tahunan (yoy).
Menurut Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Ateng Hartono, emas perhiasan mengalami inflasi sebesar 8,42% dan memberikan andil inflasi sebesar 0,19% pada Februari 2026. Inflasi pada komoditas ini telah berlangsung selama 30 bulan berturut-turut sejak September 2023.
"Komoditas emas perhiasan telah mengalami inflasi secara bulanan selama 30 bulan berturut-turut. Inflasi emas perhiasan pada Februari 2026 sebesar 8,42% dan memberikan andil inflasi sebesar 0,19%," kata Ateng dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (2/3/2026).
Emas perhiasan memberikan kontribusi inflasi terbesar pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya. Kelompok ini menjadi salah satu penyumbang utama inflasi pada Februari 2026, dengan tingkat inflasi 2,55% dan andil inflasi 0,19%.
Ateng menjelaskan bahwa tingkat inflasi kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya dan periode yang sama tahun sebelumnya. Komoditas emas perhiasan menjadi penyumbang inflasi terbesar pada kelompok ini.
Secara tahunan, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi sebesar 16,66% dengan andil 1,12%. Inflasi kelompok ini didorong oleh inflasi komoditas emas perhiasan yang konsisten mengalami inflasi secara tahunan sejak Februari 2022.
Di tengah kenaikan permintaan dan harga emas, Indonesia mencatat impor logam mulia dan perhiasan/permata dalam jumlah besar. Impor terbesar berasal dari Australia, dengan pangsa 47,54% atau pertumbuhan 634,30% secara tahunan.
"Impor non migas dari Australia tercatat sebesar US$ 1,07 miliar, ini terutama didominasi impor logam mulia dan perhiasan/permata. Ternyata perhiasan atau logam mulia banyak diimpor dari Australia dengan share 47,54% atau tumbuh 634,30% secara tahunan," ungkap Ateng.