Jelang Hari Raya Idul Fitri, fenomena jasa penukaran uang kembali terlihat di beberapa lokasi. Salah satunya di kawasan Asemka, Jakarta Barat, belasan penjual uang menawarkan berbagai pecahan kepada warga yang melintas.
Berdasarkan pantauan di sekitar Stasiun Jakarta Kota, setidaknya ada 11 jasa penukaran uang yang beroperasi di pinggir Jalan Asemka, baik arah timur maupun barat. Di persimpangan Jalan Pintu Kecil, terdapat dua penukar uang lainnya.
Para penjual ini berjualan dengan perlengkapan sederhana. Mereka hanya bermodalkan bangku plastik dan payung untuk berteduh dari panas matahari. Di sudut-sudut jalan dekat Kota Tua, mereka menawarkan pecahan Rp 2.000, Rp 5.000, Rp 10.000, dan Rp 20.000.
Salah seorang penukar uang yang telah 10 tahun berjualan di kawasan tersebut mengungkapkan bahwa aktivitas ini hanya ramai saat menjelang Lebaran. "Setiap tahun kita di sini, tapi pas dekat Lebaran doang. Kalau sehari-hari kita nggak buka, nggak ada yang butuh," katanya, Senin (9/3/2026).
Menurutnya, selama Ramadan 2026, banyak orang yang menukarkan uang sambil melintas di jalan tersebut. Meskipun, tak sedikit pula yang hanya bertanya mengenai tarif penukaran uang.
Ia memprediksi puncak keramaian akan terjadi menjelang libur Lebaran. "Paling ramai minggu depan, dekat-dekat libur Lebaran kan. Itu mulai banyak yang cari, mungkin di luar sana mereka nggak dapat kan, jadi pada ke sini," ucapnya.
Selain tunai, transaksi juga dapat dilakukan secara non-tunai. Pembeli dapat mentransfer dana ke rekening bank milik 'bos' para pedagang. Setelah transfer beserta biaya jasa diterima, pedagang akan memberikan uang pecahan baru.
Para penyedia jasa ini tampak percaya diri meski secara terbuka memamerkan uang baru. Kepercayaan diri ini berasal dari rasa kebersamaan dengan penyedia jasa lain serta adanya 'mata-mata' yang memantau.
"Kan ada teman kita di sini, mata-mata. Iya ada lah, masa kita doang, ada teman kita di sini," ucapnya.
Menurutnya, 'mata-mata' ini merupakan utusan dari 'bos' penyedia uang baru. Uang yang dijajakan merupakan titipan dari sang bos yang memantau dari jauh. "Jadi bukan kita doang yang di sini, ada di dekat-dekat kita melihat, kalau ada yang jambret langsung dikejar. Bukan duit kita ini, punya orang ini," terangnya.
Ia menjelaskan sistem 'pinjam', di mana penyedia jasa mendapatkan uang baru untuk ditukar di pinggir jalan. Uang ini akan dikembalikan setelah seharian dijajakan. "Beli kita juga. Iya beli, saya beli juga, makanya begitu ada tambahan. Kalau tukar dari bank masa kita kasih harga segitu," ujar penyedia jasa tukar uang itu.
Modal yang dibutuhkan mencapai ratusan juta rupiah. "Ratusan juta, ratusan juta lah modalnya. Ada kita pinjaman dari bos, nanti kalau sudah pulang kita kembalikan lagi yang dipinjam. Sisa dapat berapa, itu yang kita bawa pulang," jelasnya.