Kementerian Pertahanan Jepang mengadakan pertemuan dengan perusahaan rintisan Air Kamuy pada Senin (4/5/2026) untuk membahas potensi penggunaan drone berbahan kardus bergelombang dalam operasi militer. Langkah ini diambil guna memperkuat strategi pertahanan melalui pengadaan alutsista produksi massal dengan biaya yang jauh lebih efisien.
Dilansir dari Detik iNET, fokus utama pembicaraan tersebut tertuju pada AirKamuy 150, sebuah drone bersayap tetap (fixed-wing) yang dirancang untuk berbagai misi. Inovasi ini muncul menyusul pengamatan terhadap efektivitas penggunaan drone murah dalam konflik bersenjata di Ukraina dan Iran.
Drone AirKamuy 150 menawarkan penghematan biaya produksi yang signifikan dibandingkan model serupa lainnya. Satu unit drone ini dibanderol dengan harga maksimal USD 3.000 atau sekitar Rp 48 juta, jauh di bawah harga drone Lucas buatan Amerika Serikat yang mencapai USD 10.000 atau sekitar Rp 162 juta.
Selain faktor biaya, keunggulan utama perangkat ini terletak pada kemudahan manufakturnya yang hanya membutuhkan waktu perakitan sekitar lima menit tanpa alat khusus. Bobotnya yang ringan memungkinkan drone melaju hingga kecepatan 119 km/jam, melampaui kecepatan drone Lucas yang hanya mencapai 101 km/jam.
Struktur rangka pesawat yang bisa dilipat secara rata (flat) memberikan keuntungan logistik yang besar bagi personel di lapangan. Kemampuan ini memudahkan transportasi unit dalam jumlah banyak tanpa memerlukan ruang penyimpanan yang luas di area konflik.
Pihak Air Kamuy menyatakan bahwa drone ini mampu melakukan serangan berkelompok (swarm attacks) untuk menembus sistem pertahanan udara lawan. Penggunaan material kardus dinilai logis karena drone tipe sekali pakai tidak memerlukan perlindungan baja yang berat untuk menjalankan misinya.
Namun, AirKamuy 150 memiliki keterbatasan pada jangkauan operasional karena menggunakan tenaga listrik murni dengan daya tahan baterai sekitar 80 menit. Hal ini berbeda dengan drone Lucas yang menggunakan mesin bensin dan mampu terbang hingga jarak 823 kilometer.
Meskipun saat ini masih diposisikan untuk keperluan latihan sasaran dan pengiriman darurat sipil, ketertarikan pemerintah Jepang menunjukkan pergeseran taktik perang modern menuju penggunaan senjata otonom berbiaya rendah. Pengembangan perangkat lunak AI diharapkan dapat menutupi kekurangan jarak tempuh drone melalui koordinasi serangan yang lebih presisi.