Momen Lebaran sering menjadi penentu dinamika ketenagakerjaan di Indonesia, khususnya bagi pekerja swasta. Setelah menerima THR, tak jarang karyawan beramai-ramai mengajukan pengunduran diri.
Lantas, apakah fenomena resign setelah THR Lebaran hanya siklus musiman atau justru mencerminkan masalah di perusahaan?
Menurut Konsultan SDM, Audi Lumbantoruan, fenomena ini terjadi karena banyak karyawan sebenarnya sudah berniat mencari peluang baru, namun menunda pengunduran diri agar mendapat THR Lebaran.
"Ini mindset yang sebenarnya keliru sih, makin besar orang yang ingin cari peluang perusahaan di luar sana lebih baik dari apa yang saya dapat sekarang. Walaupun belum tentu bener, ya. Ini kan bicara mindset," kata Audi kepada detikcom, Senin (16/3/2026).
Audi menambahkan, perusahaan atau HRD biasanya sudah melihat tanda-tanda pekerja yang berencana resign setelah Lebaran. Ciri-ciri tersebut meliputi penurunan kinerja, kurangnya komunikasi, dan penurunan komitmen.
"Kelihatan dalam sisi respons, sisi komunikasi, gitu ya, atasan langsung biasanya juga tahu lah kalau dia sudah mulai nggak fokus gitu ya. Secara perilaku sudah ketahuan siapa yang mau resign," jelasnya.
Praktisi HR, Ivan Taufiza, menyampaikan bahwa perusahaan biasanya sudah memantau pekerja yang berpotensi resign setelah Lebaran. Mereka menunjukkan gejala-gejala tertentu.
"Sebenarnya posisi-posisi atau orang-orang yang akan potensi keluar setelah THR itu kan sebenarnya kelihatan, pola-polanya kelihatan, gejala-gejalanya kelihatan, harusnya disiapkan lebih awal. Jadi itu dari sisi perusahaan harusnya ada antisipasi gitu kan," ujar Ivan.
Karyawan yang ingin mengundurkan diri biasanya terlihat tidak lagi fokus pada pekerjaan jangka panjang, lebih sering bosan, hanya mengerjakan tugas minimal, menghindari tanggung jawab lebih dan proyek baru.
"Contoh, kalau misalnya pekerjaan biasanya tugas ke luar kota atau perjalanan dinas, nah dia sudah mulai males tuh, dia kan sudah mulai menghindari ya kan. Kalau dia misalnya penugasan ke luar kota dia sudah maunya di point of hire-nya, misalnya dia Jakarta penugasan Semarang gitu kan, dia sudah mulai males tuh ke Semarang, ada di Jakarta saja misalnya," ucapnya.
"Jadi kinerja juga sama biasanya kalau orang lari 100 km per jam gitu nih sekarang paling cuma 60-70 ya kan, pasti kelihatan sih secara umum gitu. Jadi perilaku, kontribusi itu juga sudah pasti mulai kelihatan juga, komunikasi-komunikasinya juga kan beda dengan kalau orang sudah mau resign secara umum," sambungnya.